Jumat, 04 April 2014

Tradisi Rotiban Gemakan dzikir dan Sholawat dari Rumah

Demak - Tidak hanya di Masjid Agung, tetapi dari rumah-rumah penduduk muslim Salawat Nabi dan Nur Ilahi ini juga dipancar-luaskan ke langit. Demikian dikatan Ketua Majelis Jam’iyyah Pecinta Dzikir dan Sholawat Rotib Kubro Kabupaten Demak, Hasan Hamid dalam menyambut para anggota istighotsah di rumahnya, Desa Trengguli Kecamatan Wonosalam, Jumat Pon (4/4) malam.


Rotib-3 
Sebagian jam’iyyah pecinta zikir dan salawat sedang berdiri asroqolan. (Foto : Machmud)

Jam’iyyah Pecinta Dzikir dan Sholawat Rotib Kubro asuhan Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan ini baru sekitar empat bulan resmi ‘membuka cabang’ di Demak. Pembacaan zikir dan salawat sengaja dilakukan di rumah penduduk untuk lebih meluaskan jangkauan syiar ‘kecintaan’ zikir dan salawat, dan agar rumah para muslim juga selalu tersinari dan tersirami oleh kalimah tayyibah.

Atur acara malam itu sangat simple, pembacaan zikir-salawat secara bersama-sama, asroqolan dipimpin Habib Ali al-Mushawwa dari Semarang, berdoa oleh KH Matori dari Demak, serta tausiyah sepuluh menit disampaikan oleh mualaf keturunan China, Lou Wan Jaring Subondo dari Jepara. (mac)


 Sumber :  www.demakpos.com

Kamis, 03 April 2014

KPU Tolak Golput & ‘Tidak’ Melarang Monpol

Memilih (tanda gambar peserta) dalam pemilu, adalah hak setiap warga negara Indonesia, dan istilah golput (golongan putih-red) juga tidak pernah ada tercantum dalam Undang-Undang Pemilu. Oleh karenanya, KPU tidak perlu menghabiskan waktu dan tenaga pikirannya hanya untuk pekerjaan sia-sia tersebut.

Demikian dikemukakan mantan Ketua KPU Kabupaten Demak H Machmud Suwandi, S.Ag, M.H dalam diskusi kecildengan beberapa tokoh masyarakat dan perangkat desa, yang dimoderatori demakpos, di RM Sederhana Bonang, Sabtu (29/3) pagi. “Inilah yang selalu dikampanyekan penyelenggara pemilu pada setiap melakukan tatap muka dengan tokoh masyarakat di berbagai tempat, kalangan dan kesempatan”, tambahnya.

Meskipun golput tidak tersurat dalam UU Pemilu, namun karena keberadaannya di tengah warga yang kebingungan memahami kata ‘hak memilih’ dalam pemilu, dapat  ‘mengganggu’ dan mengancam kepercayaan legitimasi pemerintah, maka KPU pin gencar mengampanyekan tolak golput agar partisipasi pemilih tetap tinggi.

“Justru profesionalisme KPU ini ditantang”, kata Machmud.

Sedangkan monpol (money politik) atau apapun istilahnya, maksud kata istilah ini memang sudah sangat terang dan jelas tersirat dan tersurat dalam UU PemiluDi mana disebutkan bahwa money politik adalah perbuatan yang dilarang, dan pelaku (pelanggar)nya dapat dikenakan sanksi pidana penjara dan atau denda

Oleh karena istilah money politik ini sudah tercantum dalam UU Pemilu, maka sudah menjadi kewajiban semua pihak (penyelenggara, KPU, Bawaslu/Panwaslu, peserta parpol dan caleg, serta warga/pemilih) untuk mengetahui dan mematuhinya.

Dengan alasan semua warga negara wajib mengetahui dan mematuhi setiap UU yang diberlakukan, menyebabkanfrekuensi kampanye KPU tentang money politik tidak segencar kampanye untuk tolak golput. Karena, sosialisasi UU Pemilu tersebut sudah dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait.

“Begitu peraturan sudah diundangkan dalam lembaran negara, maka semua warga negara sudah dianggap mengetahui isinya. Kalau pun masih ada yang kececer (kelewatan-red) belum mengetahuinya, maka bukan hanya KPU yang wajib menyosialisasikan UU Pemilu tersebut, melainkan juga pemerintah, lembaga penegak hukum, polisi dan kejaksaan serta khususnya panwas, lembaga yang lebih berkompeten terhadap pelanggaran-pelanggaran pemilu tersebut” kata Machmud. (mac)

Sumber : www.demakpos.com

Tradisi Potong Rambut Bayi dan Sembelih Kambing

Tradisi memotong rambut bayi oleh jamaah maulid pada saat asroqolan (berdiri sambil membaca salawat nabi asroqol) ini adalah acara walimatut tasmiyah (pemberian nama terhadap bayi) yang biasa dilakukan oleh masyarakat muslim. Tradisi ini dikaitkan dengan upacara aqiqoh, yang biasa dilakukan pada seputar hari ketujuh dari hari kelahiran bayi bersangkutan.

Aqiqoh adalah upacara keagamaan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw kepada umatnya. Pada upacara pemberian nama tersebut disunatkan menyembelih dua ekor kambing/domba untuk bayi laki-laki dan satu ekor untuk bayi perempuan. Pada saat itu pula diumumkan nama sang bayi dengan ditandai pemotongan rambut dan didoakan bersama-sama agar menjadi anak salih/salihah.

Upacara aqiqoh sering dilakukan secara khusus dengan mengundang tetangga kanan kiri dan handai tolan. Tetapi tidak jarang pula masyarakat (para orang tua) yang nebeng (ikut numpang) pada suatu acara mauludan di kampung, musolla dan masjid, sebagaimana dilakukan salah seorang jemaah majelis zikir di Masjid Agung Demak, Sabtu (29/3) malam

Asroqol-1Seorang bayi sedang dipotong rambutnya oleh seorang tokoh. (Foto: Machmud)

Selain memotong satu-dua helai rambut bayi secara bergantian jemaah yang hadir, disediakan pula di sisi bayi yang digendong ayahnya berkeliling jemaah maulid sebuah kotak/kardus berisi bedak bayi. Jemaah pun dengan suka rela memoleskan bubuk bedak tersebut ke wajah, pipi atau jidat/batuk bayi sehingga muka bayi mirip badut lucu.

Ada beberapa makna filosofi dan manfaat yang terkandung dalam acara tersebut. Antara lain; bayi mulai dikenalkan dengan tetangga dan gandai tolan, dikenalkan dan dibiasakan silaturahmi dengan tetangga, diperdengarkan dan dibiasakan mengucap/bertutur dengan kalimah toyyibah berupa bacaan salawat, didoakan kebaikan masa depannya, dan sekaligus dilatih dan dibiasakan mencintai nabinya Muhammad Rasulullah serta pengamalan ajaran agamamya. (mac)

Sumber : www.demakpos.com


Tradisi Tahlilan Dari dulu Hingga Sekarang



Demak - Salah satu tradisi warga nahdliyin yang masih diuri-uri kelestariannya sampai sekarang adalah  Tahlilan. Bacaan tahlil selain di baca pada cara seremonial seperti slametan supitan, pernikahan dan pengajian. Juga dibaca dalam rangka untuk mendo’akan orang yang telah meninggal dunia.

Bacaan tahlil ini dibaca saat jenazah masih di rumah , dishalatkan di masjid sampai dipemakaman usai di kubur. Selain itu masih ada lagi bacaan tahlil di mulai malam pertama sampai malam ke tujuh. Hadir dalam pembacaan itu sanak saudara, tetangga dan juga karib kerabat.

Namun untuk beberapa daerah ada yang sampai malam ke tiga saja. Selanjutnya malam keempat sampai malam keenam kosong. Namun malam ke tujuh acara tahlilan itu dilangsungkan kembali.

“ Kalau di Kudus yang saya tahu malam pertama sampai malam ke tiga saja. Selanjutnya malam ketujuh diaadakan lagi yang diundang adalah orang-orang yang mendo’akan di malam ketiga.” Kata Hamzawi Anwar warga asli  desa Kedungmutih Demak namun kini sudah pindah ke Kudus pada demakpos.

Hamzawi mengatakan selain malam pertama sampai malam ke tujuh . Selan jutnya pembacaan tahlil juga dilakukan lagi pada empat puluh hari , seratus hari , satu tahun dan sampai dengan seribu hari. Tradisi selamatan itu lazim disebut  matangpuluh dina, nyatus, mendhak siji, mendhak loro dan nyewu.

Menurut Hamzawi tradisi tahlilan itu sudah ada ketika dia masih kecil. Dulu ketika acara tahlil itu dilaksanakan setiap malam ada semacam makanan kecil dan minuman. Duduknya masih diatas gelaran berupa , klasa, dabag dan  gedheg. Pada malam ketiga dan malam ke tujuh ada berkat untuk yang hadir.
Meskipun tergerus oleh kemajuan jaman tradisi tahlilan ini masih tetap ada. Namun ada beberapa hal yang dihilangkan. Diantaranya kini tidak ada lagi sugatan makanan kecil atau jadah di setiap malamnya. Selain itu tempat duduk sudah bergeser tidak ada lagi klasa namun digantikan oleh kursi .

“ Nah untuk berkatan dulu dua kali malam ketiga dan malam ke tujuh . Tetapi saat ini hanya satu kali di malam ke tujuh saja. Bentuknya juga beda dulu kebanyakan berupa nasi . Kini bahan mentah seperti beras, Sarimi atau gula pasir “, kata Hamzawi.

Menurut Mbah H. Muslikan (74)  tokoh masyarakat desa Kedungmutih tradisi membaca tahlil di semua desa di kabupaten Demak dan sekitarnya masih ada sampai sekarang. Namun pelaksanaannya yang berbeda. Misalnya waktu , tempat dan  juga hidangan untuk yang hadir. Bahkan ada beberapa desa yang telah menghapus pemberian berkat.


“ Masalah berkat itu tergantung dari kesepakatan bisa dihilangkan atau masih dilestarikan. Yang penting kita berniat untuk mendoakan saudara, keluarga atau teman yang meninggal dengan bacaan tahlil itu yang harus kita lestarikan”, kata Mbah H. Muslikan. (Muin)



100 Rumah Diserang Angin Ribut

Demak - Lebih dari 100 rumah penduduk di Desa Gedangalas dan Desa Jatisono Kecamatan Gajah, serta di Desa Kerang Kulon dan Desa Getas Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak porak poranda akibat diterjang angin puting beliung, Jumat sore hujan gerimis lalu. 

Tidak terdapat korban jiwa, namun kerugian harta benda mencapai ratusan juta rupiah. Demikian Kabag Humas Pemkab Demak Rudi Santosa kepada demakpos, Selasa (1/4).

Beberapa orang warga korban musibah menuturkan, sekitar pukul 17.00 hujan gerimis disertai angin kencang membasahi desa-desa tersebut. Masyarakat berhamburan keluar rumah, takut ada apa-apa dan kenapa-kenapa. 

Tidak lama kemudian terdengar suara gemerontak keras sekali, ternyata puluhan genting, asbes, seng dan atap rumah penduduk beterbangan. Sebuah musolla dan beberapa rumah porak poranda diterjang angin lesus jelang maghrib itu. (mac)

Sumber : www.demakpos.com



Makan dalam Ambengan Tiada Lagi Ada Perbedaan

Tradisi makan bersama dalam satu nampan (ambengan-Jw) yang dilakukan oleh Jama’ah Al-Khidmah ini, dapat menciptakan kesetaraan derajat dan menghilangkan kesenjangan sosial. Bersama KH Munir Abdullah, pengasuh Al-Khidmah Jawa Tengah, Bupati Demak Drs HM Dachirin Said SH, MSi, Ketua MUI Drs KH Mohammad Asyiq, para anggota muspida, puluhan pejabat struktural dan fungsional, puluhan calon anggota legislatif (caleg), ribuan orang rakyat jelata, kiai, santeri dan kaum awam berbaur dalam satu majlis mensyukuri Hari Jadi Demak ke-511, di serambi Masjid Agung Demak, Sabtu malam Ahad (29/3).

“Mari kita sukseskan Pemilu 2014 yang bermartabat. Pilihlah wakil rakyat yang baik, yang mempunyai kepedulian terhadap bangsa dan negara. Jangan memilih caleg karena sudah atau akan memberi uang. Sesungguhnya, money politik itu hukumnya haram, dan Allah SWT tidak akan mengabulkan doa orang yang selalu makan makanan yang haram”, pesan Bupati Dachirin.

Kepungan-3Jama’ah Al-Khidmah makan ambengan bersama. (Foto: Machmud)

 Dalam tausiyahnya, KH Munir Abdullah mengajak umat Islam untuk selalu memperbarui keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Karena, dalam keadaan suasana dan kondisi serba baru seseorang akan dapat mencapai suatu kebahagiaan yang sangat dalam. Kiai asal Desa Ngroto, Gubug, Grobogan ini lebih banyak mencontohkan suasana kebahagiaan lahir batin yang dijalani oleh pengantin baru pada hari-hari selama bulan madu.

“Kecintaan dan kesayangan suami-istri terhadap kekasihnya tersebut sangat luar biasa, sampai-sampai tidak mengenal cape dan lupa waktu. Itu pula yang dimaksud Nabi Muhammad saw umat muslim-muslimat agar selalu memperbarui keimanannya kepada Allah SWT sebagaimana hadits jaddidủ ïmānukum…”, kata Munir. (mac)

Sumber : www.demakpos.com

“ Ora Ana Dhuwite , Ya Ora Nyoblos “


Pemilu tinggal beberapa hari lagi, namun hingar-bingar kampanye dengan pawai dan unjuk gigi panggung kini tak ada lagi. Warga seperti biasa menjalankan rutinitas sehari-hari tanpa terganggu oleh hiruk pikuk oleh kampanye parpol. 

Yang terlihat hanyalah jejeran banner gambar calon dan bendera partai di sudut gang, jalan kampung , jalan raya sampai dengan jalan protocol di kota-kota besar.

Rakyat sudah  jenuh akan hingar bingar dan riuh rendahnya kampanye lima tahun yang lalu. Bagi mereka kemeriahan itu hanya euphoria yang menguntungkan sefihak. Kini mereka sudah lebih mengerti dibalik keramaian kampanye.

“ Kulo mpun bosen kaliyan kampanye . Sak menika kula kerja terus mboten ngurusi kampanye. Sing penting kerja Mas “, begitu kata salah seorang tukang becak di pasar Kliwon Kudus yang saya temui belum lama ini.

Pak Jo sebutlah namanya tukang becak itu. Puluhan tahun ia menghidupi keluarganya jadi tukang becak. Dia sudah mengalami berkali-kali pemilu dengan segala keramaiaannya. Menurutnya kampanye dengan hura-hura sekarang  tidak ada artinya.

“ Sak menika rakyat mpun pinter Mas. Caleg riyen do ngapusi sakwise dadi DPR lan sak kepenake dhewe . Sak niki Caleg sing nyalon kudu dipremo ben metu dhuwite “, kata pak Jo lagi.

Menurut pak Jo tidak usah pasang gambar besar-besar diberbagai tempat. Atau pasang bendera di tempat-tempat strategis. Semua itu hanya menghabiskan biaya saja. Yang penting ketika hari coblosan orang kecil diberi sangu mereka akan berangkat nyoblos.

“ Yen ora ana dunduman dhuwit. Aku yo ora mangkat nyoblos pak . Lebih baik aku narik becak kanggo mangan anak bojoku “, kata mas Min teman pak Jo sesama penarik becak di sudut pasar kliwon.

Mas Min lebih cerdas ketika ditanya siapa yang akan dipilih ?. Dia menjawab caleg yang ia kenal baik dan rumahnya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dia tidak melihat dari partai mana ,yang penting ia kenal dan baik itu yang ia coblos.


“ sing penting malih wonten sangune Mas , sebagai ganti mboten narik sedinten “, katanya Mas Min . “ Yen ora ana dhuwite piye Mas”, tanyaku. “ Ora ana dhuwite , Yo ara nyoblos Mas “, katanya. (Muin)