Tampilkan postingan dengan label Machmud Suwandi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Machmud Suwandi. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Mei 2014

Segarkan Suasana Kerja 127 Pejabat Demak Di Rolling


Demak - Sebanyak 127 orang pejabat di Pemkab Demak, Jumat (15/5) lalu dimutasi. Puluhan di antaranya dirolling(dipindahkan dalam jabatan yang sama beda tempat/instans-red), dan beberapa lainnya dipromosikan untuk mengisi jabatan yang kosong. Demikian sumber demakpos menyebutkan.

Ke-127 pejabat yang dimutasi tersebut, terdiri atas eselon IIB (17 orang), eselon IIIA (24 orang), eselon IIIB (19 orang), eselon IVA (45 orang), eselon IVB (16 orang) dan VA (6 orang). Pejabat baru IIB yang dilantik, di antaranya ; M Ridwan (Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan), Ahmad Nur Wahyudi (Asisten Pemerintahan Setda), Agus Supriyanto (Asisten Administrasi),

 Tri Wahyu Hapsari (Kepala Badan Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan), Muhtar Luthfi (Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga), Lestari Handayani (Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa), Afhan Noor (Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil).

Berikutnya ; Bambang Saptoro Subandrio (Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi), Agus Nugroho Luhur Pambudi (Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika), Anjar Gunadi (Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah), Hari Adi Soesilo (Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan), Muliana (Sekretaris DPRD), Trisno Eddie Djatmiko (Staf Ahli Bidang Pemerintahan), Doso Purnomo (Staf Ahli Bidang Pembangunan), Tatik Rumiyati (Kepala Badan Pelayanan Perijinan Terpadu dan Penanaman Modal), Rudi Santosa (Staf Ahli Bidang Hukum dan Politik) dan Windu Sunardi (Kepala Badan Kepegawaian Daerah).

Sedangkan pejabat eselon IIIA yang baru dilantik, di antaranya ; Daryanto (Kabag Humas Setda), Rohman (Inspektur Pembantu Wilayah IV), Winarno (Camat Karanganyar), Supriyatiningsih (Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip), Arief Sudaryanto (Camat Mranggen), Muh Ridhodin (Kabag Hukum Setda), Anang Badrul Kamal (Camat Dempet), Agus Hernawan (Camat Gajah), dan Sri Utami (Camat Guntur).
Selanjutnya, Endah Cahya Rini (Kabag Persidangan Sekwan), Iko Umiati (Sekretaris Dinas Kesehatan), Bekti Utomo (Camat Kebonagung), Umar Surya Suksmana (Kabag Umum Setda), Indrijantoro Widodo (Camat Sayung), dan Deby Armawati sebagai Direktur RSUD Sunan Kalijaga. (mac)



Senin, 21 April 2014

PKL Alon-alon Unjukrasa Minta Lapak di Depan Masjid Agung



Demak - Puluhan orang yang mengaku pedagang kaki lima (PKL) Alon-alon Simpang Lima depan Masjid Agung Demak, Kamis (17/4) melakukan unjukrasa ke Pemerintah Kabupaten setempat. Mereka menuntut disediakan tenda atau lapak untuk menggelar dagangannya. Kedatangan mereka dari start di Alon-alon Simpang Lima menuju ke kantor Kabupaten dengan berjalan kaki sambil meneriakkan yel-yel tuntutan.

Sebagaimana perda pemkab, Alon-alon Simpang Lima depan Masjid Agung Demak ini adalah tempat terlarang untuk jualan. Larangan itu sudah diberlakukan lebih dari delapan tahun silam. Mereka yang sering menggelar dagangan berupa jajan/makanan dan souvenir wisata relegi, pun sudah dialokasikan di jalan/gang barat dan utara masjid, serta Taman Parkir Wisata Tembiring Jogo Indah. Tetapi, secara sembunyi-sembunyi dan nekat menempati areal jalan yang melingkari Alon-alon sehingga pemkab jenuh memperingatkannya.


PKLunra-2Puluhan PKL nggeruduk ke Kantor Bupati Demak. (Foto: Machmud)

Dengan alasan Alon-alon Simpang Lima dan halaman masjid dipugar, para pedagang asongan berhasil disingkirkan, meski hanya bergeser beberapa langkah. Setelah pemugaran rampung, sebagian mereka kembali bikin ’kapling’, namun pemkab tegas memberlakukan larangan berjualan di arena bangunan kuno tersebut sehingga jelang pemilu sampai pasca Pemilu Alon-alon Simpang Lima dan komplek Masjid Agung benar-benar steril dari pedagang.

Melihat Alon-alon Simpang lima dengan bangunan Masjid Agung-nya yang makin cantik menawan, ditunjang beberapa kegiatan tingkat nasional dan lokal sering dilakukan di komplek tersebut, membuat lokasi tersebut semakin ramai dikunjungi orang siang-malam, baik wisatawan relegi dari dalam maupun luar daerah. 

Suasana keramaian seperti itulah yang kemudian memunculkan kecemburuan para mantan pedagang di situ, akhirnya mereka bersepakat kerunjukrasanggerudug ke pendopo kabupaten dan menuntut bupati untuk diperbolehkan berjualan lagi di arena terlarang tersebut.

Setelah dijelaskan maksud penataan kota, khususnya penataan di seputar Alon-alon Simpang Lima dan khususnya penataan lingkungan masjid Agung, mereka pun dapat memahaminya. Sambil menunggu pencarian tempat yang strategis untuk berusaha, para pedagang asongan masih diperbolehkan menggelar dagangannya tanpa mendirikan bangunan di luar Alon-Alon dan komplek Masjid Agung. (MAC)




Bertobat di Makam Sunan Kalijaga Setelah Terima Amplop Pemilu


Pasca penyelenggaraan Pemilu Anggota Legislatif 9 April 2014 ribuan orang dari berbagai daerah mendatangi makam Sunan Kalijaga di Kadilangu Kabupaten Demak untuk tahlil (ziarah) menjelang Ramadhan 1435 H. Di antara mereka yang datang secara berombongan dan sendiri-sendiri tersebut.

Mengaku telah menerima pemberian ‘politik uang’ (money politic) dalam Pemilu 2014 lalu dari beberapa orang caleg berbagai partai, dan kedatangannya ke makam wali tersebut adalah untuk berziarah sekaligus ingin bertaubat (menyadari dan takkan mengulangi dosa/kesalahan lagi-red) atas dosa/kesalahan yang telah mereka lakukan, di depan pusara/makam waliyullah yang terkenal dengan kekeramatannya.

Dalam penuturannya kepada demakpos.com, besaran uang ‘haram’ yang diterimanya antara Rp10.000 hingga Rp50.000 per orang pemilih, dan atau sebesar Rp100.000 hingga Rp 250.000 per orang saksi dan timses (tim sukses) caleg tertentu. Sedangkan caleg yang memberikan ‘amplop politik’ jumlahnya antara satu hingga tujuh orang dari partai politik yang berbeda.

Pesowanan-2Penerima ‘politik uang’ berbaur di tengah zairin-zairat di makam Sunan Kalijaga.                (Foto: Machmud)

“Kami tidak memintanya, tetapi didatangi sendiri dan diberi langsung oleh orang suruhan (timses) caleg untuk mencoblos tanda gambar caleg tertentu”, kata penduduk salah satu desa di Kecamatan Bonang dan Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak, yang mengaku bernama Tri (35) dan Pardi (55).

Diakui oleh mereka, karena caleg yang memberi uang jumlahnya lebih dari tiga orang dan melebihi jumlah surat suara yang disediakan KPPS, mereka terpaksa memilih/mencoblos salah satu caleg parpol yang memberikan amplop paling besar.

“Kami merasa berdosa menerima pemberian uang itu, tetapi kami tidak mampu untuk menolaknya. Setelah Pemilu, kami dihantui rasa berdosa, sehingga kami putuskan untuk berziarah ke makam Sunan Kalijaga, waliyullah yang masa remajanya (sebelum menjadi wali-red) pernah menjalani masa kelam sehingga sempat dijuluki Brandal Lokajaya”, kata Juni (40) asal satu desa di Kecamatan Karangawen Demak. (mac)



Alun-alun Tempat Rekreasi dan Bisa Baca Buku Perpustakaan


Demak - Sekarang, warga kota Demak dan sekitarnya dapat memanfaatkan Alun-alun Simpang Lima untuk berbagai kegiatan nonbisnis. Bundaran depan bangunan kuno abad ke-15 tersebut kini juga tersedia arena untuk mempertahankan kebugaran murah meriah dengan cara berjoggingria bersama-sama di areal bebatuan kerikil berbagai ukuran, yang dikitari dengan tumbuhan bunga aneka warna.

Selain itu juga tersedia tempat duduk yang sangat teduh dan nyaman untuk melepas lelah atau sekedar melepas kepenatan pikir saja. Khusus pada tiap hari Ahad, mobil perpustakaan keliling pemerintah kabupaten lengkap dengan petugasnya menyediakan buku-buku berbagai jenis bacaan dan arena duduk lesehan untuk tempat membacanya secara santai.

Baca-3Membaca dengan lesehan sambil menikmati indahnya Masjid Agung. (Foto: Machmud)

“Di sini hanya menyediakan buku untuk dipinjam dan dibaca di tempat. Sedangkan untuk dibaca di rumah, kami tetap melayaninya di kantor pada jam dan hari kerja”, tutur Listyani (46), petugas perpustakaan kepada demakpos, Ahad (20/4/2014).

Meskipun peminjaman bukunya tetap dilakukan di kantor, lanjut Listyani, namun buku-buku pilihan dapat dibooking(dipesan, didhedheki-red) duluan di Alun-alun Utara, tempat mobil perpustakaan keliling mangkal menggelar pelayanannya secara cuma-cuma.

Diakui oleh Tiya, demikian panggilan akrab petugas perpuskeling tersebut, selama dua jam pelayanan (06.00 – 08.00 WIB) lebih dari 100 orang mengunjungi standnya. Mayoritas pengunjung anak-anak PAUD dengan melihat gambar-gambar binatang, kemudian anak-anak TK/RA (Raudhatul Atfal) dan SD/MI (Madrasah Ibtidaiyyah) pada buku-buku dongeng binatang, sejarah, tarikh ambiya’ wal khulafa, disusul pelajar SLTP/MTs dan SLTA/SMK/MA, serta ibu dan bapak-bapak yang membutuhkan refrensi buku kesehatan & obat, kehamilan, keperawatan wajah dan kulit, kepengasuhan anak, serta design rumah/taman. (mac)



Minggu, 13 April 2014

Warga Kalicilik Antre Nyoblos Di Panasan

Antusiasme menyukseskan Pemilu tanggal 9 April 2014 ditunjukkan oleh warga Kelurahan Kalicilik Kecamatan Demak. Mereka rela berdiri berpanas-panasan antre di luar tenda tempat pemungutan suara (TPS) 02 setempat, menunggu giliran namanya dipanggil oleh panitia.
Dari pengamatan demakpos, kehadiran calon pemilih di TPS tersebut sudah mulai berdatangan setengah jam sebelum rapat pemungutan suara dibuka secara resmi. 

Sebagian langsung masuk ke dalam tenda yang disediakan di Kampus SMK Pontren Darussalam Demak dan menempati kursi tunggu yang disediakan. Sedangkan sebagian lainnya menunggu di luar sambil membaca dan mencermati Daftar Nama Calon Anggota Legislatif DPR RI dan DPRD Provinsi Jateng Daerah Pemilihan (Dapil)  Jateng I, serta Daftar Nama Caleg DPRD Kabupaten Demak, dan Calon Anggota DPD Jawa Tengah.


Coblos-7Pemilih rela berdiri berpanas-panas menunggu giliran nyoblos sambil mencermati daftar caleg. (Foto: Machmud)

Meski jumlah calon pemilih pagi itu relatif ramai, namun pelaksanaan coblosan berlangsung aman, tertib dan lancar. Tidak terjadi oyok=oyokan saling mendahului. Para calon pemilih datang ke TPS langsung m,enyerahkan lembar undangan pencoblosan kepada panitia. 

Kemudian mereka mengambil tempat sendiri di kursi kosong di bawah tenda dan atau berdiri di luar menunggu giliran namanya.dipanggil panitia. Setelah menyalurkan hak pilihnya, mereka pun dengan tertib meninggalkan TPS dan kembali ke rumah dan atau tempat kerja (bakulan/pedagang) masing-masing di Pasar Bintoro. (mac)



Manaqib Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah

Raden Fattah lahir tahun 1448 Masih/1370 Saka, putra bangsawan Prabu Brawijaya V (Raden Kertabumi) Raja Majapahit ke-11. Ibunya bernama Putri Liang atau Campa. Nama kecil Raden Fattah adalah Pangeran Jimbun, yang oleh Adipati Arya Damar di Palembang, diberinama baru Raden Hasan.

Pada usia 14 tahun, berkelana merantau ke Pulau Jawa. Raden Hasan bertemu dan berguru dengan Kanjeng Sunan Ampel di Surabaya, kemudian diberi nama Raden Fattah. Atas petunjuk dan bimbingan para wali, Raden Fattah bersama pada santerinya mendirikan sebuah masjid di pesisir Laut Jawa, yang kemudian sekaligus dijadikan sebagai pesantren Glagah Wangi.

Inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Masjid Agung Demak dengan condro sengkolo Nogo Mulat Saliro Wani, yaitu prasasti yang menunjukkan angka tahun 1466 Saka. Pada saat itu pula Raden Fattah ditunjuk sebagai mubalig, menggantikan Syeh Maulana Jumadil Qubro yang wafat dan dimakamkan di Trowulan Mojokerto Jawa Timur.

Pada tahun 1475 M, Prabu Brawijaya V memberikan anugrah jabatan kepada Raden Fattah sebagai Adipati dengan gelar Adipati Notoprojo yang berkedudukan di Glagah Wangi Bintoro. Berdasarkan condro sengkolo Kori Trus Gunaning Janmi (tahun 1477 M) Raden Fattah sebagai Adipati Notoprojo di Glagah Wangi menyempurnakan bangunan masjid sebagai masjid Kadipaten.

Diangkat Jadi Sultan

Oleh para wali, Raden Fattah selaku Adipati Notoprojo Glagah Wangi dinilai berhasil membangun pemerintahan dan panutan. Selain cepat menguasai berbagai disiplin ilmu yang diajarkan para wali, Raden Fattah dinilai sebagai seorang satria yang tampan, cerdas, santun, bersahaja, dan halus budi pekertinya sehingga mereka (wali songo) secara bulat mengambil fatwa dan mengangkatnya menduduki ‘tahta

 Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berkedudukan di Kasultanan Bintoro Demak pada tahun 1478 M dengan gelar atau sebutan “Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo”. Tahta kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa ini berjalan tertib, aman dan lancar, serta tidak memunculkan gejolak dan gejolak dari Kerajaan Majapahit.

Setahun menduduki jabatan sultan di Kasultanan Demak Bintoro, Raden Fattah pun 1470 M meresmikan purna pugar Masjid Agung dari statusnya sebagai masjid kadipaten menjadi masjid kasultanan, dengan ditandai sengkolo memet “Saliro Sunyi Kiblating Gustri” yang bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M.

Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo adalah seorang amirul mukminin yang alim, adil dan bijaksana. Beliau memegang tampuk pemerintahan selama 40 tahun (1478-1518 M). Setelah beliau wafat, Kasultanan Demak Bintoro dijabat oleh putra keduanya Raden Pati Unus selama 3 (tiga) tahun, dan oleh adik Pati Unus (putra keempat Raden Fattah) yaitu Raden Trenggono selama 25 tahun (1512-1546).

Kemudian setelah itu selama 14 tahun Kasultanan Demak Bintoro mengalami kekosongan kepemimpinan, akibat terjadinya konflik keluarga. Akhirnya muncul Raden Hadiwijaya yang memegang tampuk pemerintahan mulai 1560 – 1582 dan Kasultanan Demak Bintoro dipindah ke Pajang wilayah Surakarta.

Keturunan Raden Abdul Fatah, adalah: 1) Ratu Mas Panembahan Banten (istri Sunan Gunung Jati, raden Syarif Hidayatullah), 2) Raden Pati Unus, 3) Raden Pangeran Sedo Lepen (Pangeran Suromiyoto), 4) Raden Trenggono, 5) Raden Kanduhuruan, dan 6) Raden Pamekas. (machmud).



Habib Lutfi : Nabi Muhammad Mengajarkan Mauludan Manaqib dan Tahlilan


Mula-mula hanya mengatakan bahwa acara mauludan, manaqiban dan tahlilan adalah bid’ah, yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Setelah itu, tempat-tempat bersejarah seperti rumah tempat Nabi Muhammad saw dilahirkan dibiarkan terlantar tidak terawat, rumah Siti Khadijah diratakan dengan tanah dijadikan terminal, dan masjid-masjid sahabat dimusnahkan, semata-mata untuk menghilangkan jejak dan sejarah kerasulan Nabi Muhammad saw. 

Maka setelah itu, mereka pun dengan leluasa menghapus syirah/tarikh dan menggantinya dengan dongeng, sehingga akhirnya sejarah ajaran Islam hanyalah fiktif. Demikian Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya dari Pekalongan Jawa Tengah, dalam tausiyahnya pada Haul Agung Kanjeng Sultan Raden Abdul Fatah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo ke-511 di halaman Masjid Agung Demak, Sabtu (12/4) malam.

Adalah salah besar apabila Nabi Muhammad saw tidak pernah mengajarkan mauludan, manaqiban dan tahlilan,lanjut Habib Luthfi. Justru mereka inilah yang tidak tahu sejarah, karena mereka hanya terpaku pada teks Al-Qur’an dan Sunah. Mereka tidak mau tahu budaya apa saja yang berkembang di masyarakat kemudian diadobsi oleh Rasulullah untuk melancarkan dakwah islamiyahnya, sehingga Islam dapat diterima oleh masyarakat dalam kurun waktu kurang dari 23 tahun.

Dalam kesempatan yang sama, hal serupa juga disampaikan oleh Dr KH Mustofa Bisri dari Pengasuh Ponpes Roudhotut Tholibin Rembang Jawa Tengah.

“Dalam mendakwahkan Islam di Nusantara ini, para wali songo sangat arif dan meneladani kebijakan Rasulullah sehingga Islam dapat diterima dengan lapang dada oleh masyarakat atheis, animis, Hindu dan Budha. Karena, para wali mengadopsi budaya dan kesenian lokal yang berkembang di masyarakat.

“Tidak ada pertentangan dan tidak ada gejolak. Tetapi justru penyebaran Islam berlangsung sejuk, kondusif dan penuh toleransi”, papar Gus Mus.

“Islam tidak mengutamakan kemasan, tetapi isi. Maka diciptakan wayang dan berbagai macam kesenian lokal oleh para walisongo. Tidak harus berjubah, bercelana cingkrang dan berjenggot untuk menjadi pendakwah. Dengan blangkon, baju beskap kejawen dan mengisi tradisi lama nelung ndino, mitung ndino, matang puluh, nyatus, mendhak dannyewu dan seterusnya, pemeluk Hindu dan Budha merasa diuwongke,” lanjutnya.

“Dengan tidak menyembelih sapi  seperti yang dilakukan Kanjeng Sunan Kudus, masyarakat Hindu beralih memeluk Islam dengan senang hati. Mereka tidak merasa terpaksa dan dipaksa. Ini yang dilakukan oleh para wali, menerjemahkan ajaran Al-Qur’an dan Hadis dengan bahasa rakyat awam yang mudah diterima. Tidak perlu masyarakat dipaksa memahami dan menafsirkan kitab suci dan hadis nabi sendiri” tambahnya. (mac)



Senin, 07 April 2014

Angkat Batik Demakan ke Tingkat Nasional




SONY DSCUpaya mengangkat produksi dalam negeri selalu dilakukan oleh berbagai pihak dengan berbagai macam cara. Di antaranya yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Demak, Ahad (6/4). 

Parade Kirab Budaya dan Seni dalam rangka mengayubagyo Hari Jadi Demak ke-511 tersebut ditampilkan berbagai macam kesenian daerah dan hasil produksi lokalnya.

Salah satunya adalah hasil tenun/batik Demakan dan batik Wedungan (yang dikenakan oleh grup seni lokal). Kain dengan polesan khas daerah pesisir utara ini dikemas apik dan menarik sehingga memunculkan decak kagum, mengangkat gengsi, pestise dan citra Kabupaten Demak. (mac)








Kampanye Pemilu Bermartabat




SONY DSCPerempuan cantik gemulai ini sangat bersemangat sekali ‘berkampanye’ meneriakkan orasinya untuk menyukseskan Pemilu 9 April 2014 bermartabat. 

Dia bukan caleg parpol dan juga bukan calon DPD. Dia adalah salah satu ‘kontestan’ Parade Kirab Budaya dan Seni Mengayubagyo Hari Jadi Kabupaten Demak ke-511.

Kontestan lain yang cukup menarik perhatian masyarakat adalah penampil (perawati) batik. Lukisan dan corak batiknya sederhana. Namun karena dikemas cukup apik, pamor dan nilai gengsi serta prestisenya membubung ke atas. Hebat, batik demakan ini. (mac)

Bersihkan Merah Putih, Ahbabul Mustofa ‘Pilih’ Pemimpin Aswaja

Dalam “Demak Bersholawat” memperingati Haul Raden Abdul Fatah al-Akbar Sayidin Panotogomo ke-511 di Serambi “Majapahit” Masjid Agung Demak, Ahad malam (6/4), 

Habib Ali Zaenal Abidin bin Husein Assegaf (Jepara) dan Al-Habib Umar bin Ahmad Bafaqih (Purwokerto) mengajak jamaah Ahbabul Mustofa untuk memilih pemimpin yang memegang teguh paham ajaran Ahlus Sunah Wal Jamaah (ASWAJA).

Alasannya, karena faham Aswaja ini adalah pewaris dan pelestari dakwah ala ‘walisongo’ yang sudah terbukti keberhasilannya menyiarkan ajaran Islam di Indonesia dengan cara damai dan tidak menimbulkan gejolak di masyarakat yang masih atheis, animis, Hindu dan Budha.

Ahbabul-2Bersama para Habaib, Bupati, Ketua MUI dan Muspida mengikuti “Demak Bersolawat”. (Foto: Machmud)
Tausiyah dan salawatan yang bersyair mengajak muslim Indonesia untuk memilih pemimpin yang memiliki latar belakang Islam paham Ahlus Sunah Wal Jamaah oleh kedua habib tersebut disampaikan di depan ribuan jamaah Ahbabul Mustofa, Bupati Drs HM Dachirin Said, SH, Msi, Ketua MUI/Takmir Masjid Agung Drs KH Mohammad Asyiq, para Muspida, Kepala Dinas/Instansi dan jajarannya.

“Merah Putih dikibarkan di bumi pertiwi Indonesia ini dengan pengorbanan jiwa para pejuang. Maka, jangan kotori merah putih ini dengan memilih pemimpin sembarangan, yaitu pemimpin yang tidak memiliki tanggung jawab, tidak memahami pengetahuan sejarah bangsa dan hanya suka melakukan korupsi, berfoya-foya dan bertindak maksiat”, papar Habib Zaenal.

“Pilihlah pemimpin yang memiliki perilaku santun, yang tidak mencaci maki kaum penyuka zikir, salawat, tahlil dan ziarah. Jamaah Ahbabul Mustofa jangan sampai memilih pemimpin yang arogan, suka melecehkan agama, suka berbuat maksiat dan menyediakan perempuan pelacur”, pesan Habib Umar bin Ahmad Bafaqih. (mac)




Minggu, 06 April 2014

Demak Gelar Parade Kirab Budaya dan Seni HUT Demak ke 511




Dalam rangka mengayubagyo Hari Jadi Demak ke-511 Tahun 2014, Ahad (6/4) siang, digelar Parade Kirab Budaya dan Seni. Lebih dari 50 macam kesenian tradisional dan kreatif asal daerah ‘agamis’ mengunjukkan kebolehannya di depan Pasar Bintoro, tempat didirikannya panggung kehormatan. 

Bupati Drs HM Dachirin Said SH, M.Si, dan Wakil-nya Drs H Harwanto, Ketua DPRD HM Muhlasin SE, M.Si, MH, para anggota Muspida dan para kepala dinas/instansi masing-masing bersama istri menyaksikan bersama-sama dengan ribuan masyarakat kota setempat.

Prajurit Patang Puluhan, Kuda Lumping, Barongan lengkap dengan Penthol-Tembemnya, tampil apik memikat secara bergantian dengan grup rebana, jipin pesisiran, marching band, dan drumband kaleng bekas, serta personil-personil wayang orang dengan dandanan modern dan gemerlap.

Di antara regu-regu kesenian, juga ditampilkan berbagai produk batik asli Demak, meliputi Batik Wedungan dan Batik Demakan dengan ciri khasnya masing-masing, Penampilan parade batik khas Demak tersebut menjadikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Selain dikenakan oleh peragawan-peragawati cakep, tampan dan cantik, juga penampilan mereka dibalut dengan asesoris gemerlap yang mengundang selera.

Yang tidak kalah menariknya dengan grup kesenian tradisional, adalah penampilan kocak berbagai badut dengan busana anekdot dan satire sosial yang berkembang sekarang. Ada yang dengan berorasi lucu menggelikan, dan ada yang hanya tampil berupa gerakan dan busana yang memunculkan kelucuan-kelucuan. (mac)

Sumber : www.demakpos.com