Senin, 21 April 2014

Petambak Demak dapat Kucuran Dana Rp7,1 Miliar



Demak, Antara Jateng - Kementerian Kelautan dan Perikanan mengucurkan bantuan senilai Rp7,1 miliar untuk mendorong peningkatan produktivitas para petambak dan nelayan Demak, Jawa Tengah.

"Bencana banjir yang melanda wilayah pantai utara Jawa beberapa waktu lalu menyisakan kerugian sangat besar, termasuk wilayah Demak," kata Menteri KKP Sharif C Sutardjo di Kabupaten Demak, Minggu.

Hal tersebut diungkapkannya saat panen ikan lele dan peninjauan Sentra Pengasapan Ikan yang terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, sekaligus menyerahkan bantuan dari KKP.

Total kerugian yang diakibatkan banjir Pantura setidaknya mencapai Rp587 miliar, kata dia, sementara untuk wilayah Jateng kerugiannya mencapai Rp85 miliar dari 10 kabupaten, termasuk Demak.

"Luasan wilayah di Demak yang terkena dampak banjir mencapai 1.635 hektare dengan kerugian sekitar Rp20 miliar. Bahkan, banjir juga merusak kawasan budi daya dan sentra perikanan di Demak," katanya.

Sharif mengungkapkan bantuan itu dimaksudkan untuk mendorong semangat para petambak dan nelayan untuk bangkit kembali memb
Dengan panjang garis pantai mencapai 72,14 kilometer, kata dia, sektor perikanan selama ini menyumbang pendapatan yang besar bagi Demak, didukung dengan terobosan pengolahan ikan darat maupun tangkap.

"Pada 2013 lalu, sektor budi daya perikanan di Demak sanggup menghasilkan sekitar 28 juta kilogram ikan, sementara untuk sektor perikanan tangkap mampu menghasilkan 2,1 juta kg ikan," kata Harwanto.
angun tambak-tambak untuk sektor perikanan darat, serta perikanan tangkap.

"Bantuan modal kerja bagi korban banjir sangat membantu petambak dan nelayan keluar dari kesulitan. Apalagi, pada masa pemulihan pascabencana setelah sumber pencahariannya terdampak, butuh modal," katanya.

Bantuan sebesar itu, terdiri atas berbagai program, antara lain Program Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Perikanan Budi Daya, Tugas Pembantuan Minapolitan, mesin pelet, alat pemecah ombak, dan beasiswa pendidikan.

"Termasuk, paket bantuan korban banjir Demak senilai Rp291 juta yang terdiri atas bantuan induk dan benih ikan, serta rehabilitasi saluran melalui kegiatan pengelolaan irigasi tambak partisipatif," kata Sharif.

Sementara itu, Wakil Bupati Demak Harwanto menyambut baik atas bantuan yang diberikan KKP untuk mendukung pengembangan sektor perikanan budi daya dan perikanan tangkap setempat yang terdampak banjir.

"Kelautan dan perikanan merupakan salah satu dari empat sektor unggulan bagi Kabupaten Demak karena nilai pendapatannya tinggi dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat," katanya.

 


PKL Alon-alon Unjukrasa Minta Lapak di Depan Masjid Agung



Demak - Puluhan orang yang mengaku pedagang kaki lima (PKL) Alon-alon Simpang Lima depan Masjid Agung Demak, Kamis (17/4) melakukan unjukrasa ke Pemerintah Kabupaten setempat. Mereka menuntut disediakan tenda atau lapak untuk menggelar dagangannya. Kedatangan mereka dari start di Alon-alon Simpang Lima menuju ke kantor Kabupaten dengan berjalan kaki sambil meneriakkan yel-yel tuntutan.

Sebagaimana perda pemkab, Alon-alon Simpang Lima depan Masjid Agung Demak ini adalah tempat terlarang untuk jualan. Larangan itu sudah diberlakukan lebih dari delapan tahun silam. Mereka yang sering menggelar dagangan berupa jajan/makanan dan souvenir wisata relegi, pun sudah dialokasikan di jalan/gang barat dan utara masjid, serta Taman Parkir Wisata Tembiring Jogo Indah. Tetapi, secara sembunyi-sembunyi dan nekat menempati areal jalan yang melingkari Alon-alon sehingga pemkab jenuh memperingatkannya.


PKLunra-2Puluhan PKL nggeruduk ke Kantor Bupati Demak. (Foto: Machmud)

Dengan alasan Alon-alon Simpang Lima dan halaman masjid dipugar, para pedagang asongan berhasil disingkirkan, meski hanya bergeser beberapa langkah. Setelah pemugaran rampung, sebagian mereka kembali bikin ’kapling’, namun pemkab tegas memberlakukan larangan berjualan di arena bangunan kuno tersebut sehingga jelang pemilu sampai pasca Pemilu Alon-alon Simpang Lima dan komplek Masjid Agung benar-benar steril dari pedagang.

Melihat Alon-alon Simpang lima dengan bangunan Masjid Agung-nya yang makin cantik menawan, ditunjang beberapa kegiatan tingkat nasional dan lokal sering dilakukan di komplek tersebut, membuat lokasi tersebut semakin ramai dikunjungi orang siang-malam, baik wisatawan relegi dari dalam maupun luar daerah. 

Suasana keramaian seperti itulah yang kemudian memunculkan kecemburuan para mantan pedagang di situ, akhirnya mereka bersepakat kerunjukrasanggerudug ke pendopo kabupaten dan menuntut bupati untuk diperbolehkan berjualan lagi di arena terlarang tersebut.

Setelah dijelaskan maksud penataan kota, khususnya penataan di seputar Alon-alon Simpang Lima dan khususnya penataan lingkungan masjid Agung, mereka pun dapat memahaminya. Sambil menunggu pencarian tempat yang strategis untuk berusaha, para pedagang asongan masih diperbolehkan menggelar dagangannya tanpa mendirikan bangunan di luar Alon-Alon dan komplek Masjid Agung. (MAC)




Bertobat di Makam Sunan Kalijaga Setelah Terima Amplop Pemilu


Pasca penyelenggaraan Pemilu Anggota Legislatif 9 April 2014 ribuan orang dari berbagai daerah mendatangi makam Sunan Kalijaga di Kadilangu Kabupaten Demak untuk tahlil (ziarah) menjelang Ramadhan 1435 H. Di antara mereka yang datang secara berombongan dan sendiri-sendiri tersebut.

Mengaku telah menerima pemberian ‘politik uang’ (money politic) dalam Pemilu 2014 lalu dari beberapa orang caleg berbagai partai, dan kedatangannya ke makam wali tersebut adalah untuk berziarah sekaligus ingin bertaubat (menyadari dan takkan mengulangi dosa/kesalahan lagi-red) atas dosa/kesalahan yang telah mereka lakukan, di depan pusara/makam waliyullah yang terkenal dengan kekeramatannya.

Dalam penuturannya kepada demakpos.com, besaran uang ‘haram’ yang diterimanya antara Rp10.000 hingga Rp50.000 per orang pemilih, dan atau sebesar Rp100.000 hingga Rp 250.000 per orang saksi dan timses (tim sukses) caleg tertentu. Sedangkan caleg yang memberikan ‘amplop politik’ jumlahnya antara satu hingga tujuh orang dari partai politik yang berbeda.

Pesowanan-2Penerima ‘politik uang’ berbaur di tengah zairin-zairat di makam Sunan Kalijaga.                (Foto: Machmud)

“Kami tidak memintanya, tetapi didatangi sendiri dan diberi langsung oleh orang suruhan (timses) caleg untuk mencoblos tanda gambar caleg tertentu”, kata penduduk salah satu desa di Kecamatan Bonang dan Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak, yang mengaku bernama Tri (35) dan Pardi (55).

Diakui oleh mereka, karena caleg yang memberi uang jumlahnya lebih dari tiga orang dan melebihi jumlah surat suara yang disediakan KPPS, mereka terpaksa memilih/mencoblos salah satu caleg parpol yang memberikan amplop paling besar.

“Kami merasa berdosa menerima pemberian uang itu, tetapi kami tidak mampu untuk menolaknya. Setelah Pemilu, kami dihantui rasa berdosa, sehingga kami putuskan untuk berziarah ke makam Sunan Kalijaga, waliyullah yang masa remajanya (sebelum menjadi wali-red) pernah menjalani masa kelam sehingga sempat dijuluki Brandal Lokajaya”, kata Juni (40) asal satu desa di Kecamatan Karangawen Demak. (mac)



Klengkeng Demak Segar Petik dari Pohon , Silakan Coba !!!



Demak - Warga Demak dan sekitarnya saat ini bisa memetik sekaligus membeli buah Klengkeng langsung dari pohonnya. Lokasi kebun klengkeng berada di dukuh Putat desa Wringin Jajar kecamatan Mranggen kabupaten Demak.

Ancer-ancernya, dari prapatan Pasar Waru ke arah barat kira-kira dua kilo, terus ada pertigaan yg belok ke kiri ya, tanya aja dukuh putat, Rt 2 RW 4.”, tulis Salafudin saja di FB warga Demak.




Untuk lebih jelasnya anda bisa menghubungi HP 0817450445 / 085740161411.

Menurut Salafudin harga Klengkeng segar petik dari kebun perkilonya Rp 18.000,-. Rasa Klengkeng ditanggung segar alami karena pengelolaan tanpa obat-batan kimiia. (Muin)  


Alun-alun Tempat Rekreasi dan Bisa Baca Buku Perpustakaan


Demak - Sekarang, warga kota Demak dan sekitarnya dapat memanfaatkan Alun-alun Simpang Lima untuk berbagai kegiatan nonbisnis. Bundaran depan bangunan kuno abad ke-15 tersebut kini juga tersedia arena untuk mempertahankan kebugaran murah meriah dengan cara berjoggingria bersama-sama di areal bebatuan kerikil berbagai ukuran, yang dikitari dengan tumbuhan bunga aneka warna.

Selain itu juga tersedia tempat duduk yang sangat teduh dan nyaman untuk melepas lelah atau sekedar melepas kepenatan pikir saja. Khusus pada tiap hari Ahad, mobil perpustakaan keliling pemerintah kabupaten lengkap dengan petugasnya menyediakan buku-buku berbagai jenis bacaan dan arena duduk lesehan untuk tempat membacanya secara santai.

Baca-3Membaca dengan lesehan sambil menikmati indahnya Masjid Agung. (Foto: Machmud)

“Di sini hanya menyediakan buku untuk dipinjam dan dibaca di tempat. Sedangkan untuk dibaca di rumah, kami tetap melayaninya di kantor pada jam dan hari kerja”, tutur Listyani (46), petugas perpustakaan kepada demakpos, Ahad (20/4/2014).

Meskipun peminjaman bukunya tetap dilakukan di kantor, lanjut Listyani, namun buku-buku pilihan dapat dibooking(dipesan, didhedheki-red) duluan di Alun-alun Utara, tempat mobil perpustakaan keliling mangkal menggelar pelayanannya secara cuma-cuma.

Diakui oleh Tiya, demikian panggilan akrab petugas perpuskeling tersebut, selama dua jam pelayanan (06.00 – 08.00 WIB) lebih dari 100 orang mengunjungi standnya. Mayoritas pengunjung anak-anak PAUD dengan melihat gambar-gambar binatang, kemudian anak-anak TK/RA (Raudhatul Atfal) dan SD/MI (Madrasah Ibtidaiyyah) pada buku-buku dongeng binatang, sejarah, tarikh ambiya’ wal khulafa, disusul pelajar SLTP/MTs dan SLTA/SMK/MA, serta ibu dan bapak-bapak yang membutuhkan refrensi buku kesehatan & obat, kehamilan, keperawatan wajah dan kulit, kepengasuhan anak, serta design rumah/taman. (mac)



Inilah Caleg Lolos DPRD Kabupaten Demak tahun 2014



Laporan Tribun Jateng, Muh Alfi

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK-  KPU Demak telah menyelesaikan penghitungan rekapitulasi suara dengan dihadiri 14 PPK, Minggu (20/4) malam. Dari hasil penghitungan itu, PKB menjadi pemenang, seperti pada Pemilu 2009 silam.
"Kami sudah menetapkan rekapitulasi suara dalam pleno semalam, PKB meraih suara tertinggi dalam pileg di Kabupaten Demak. Disusul Partai Golkar, Partai Gerindra dan PDI-P," ujar Ketua KPU, Mahmudi, Senin (21/4) siang.

Dari 50 jatah kursi, Mahmudi mengatakan untuk partisasi wanita dalam anggota dewan di DPRD Demak mencapai 14 persen. "Tercermin ada sekitar 8 perempuan yang mendapat jatah kursi di DPRD Demak," imbuhnya,

Berikut ini Perolehan Kursi di DPRD Kab Demak


Dapil 1 (Demak, Wonosalam, Dempet, Kebonagung) 12 kursi
PKB : Nurullah Yasin, Kastamah
Golkar : Budhi Ahmadi, Hermin Widyawati
PDIP : Tatiek Soelitijani, Faozan Gerindra: Ali Subkan, H Muthi Kholil
PPP : H Arifin
PKS : Ahmad Mudhofar
Demokrat : H Ngaspan
PAN : Susi Alifah 


Dapil 2 (Mranggen, Karangawen) 11 kursi
PKB : Ulil Nuha, Parsidi
Golkar, Robet Frendy Kurniawan, Yudo Astiko
PDIP : Sri Fahrudin Bisri Slamet, Untung Budi Santoso
Gerindra : Marwan, M Abdul Malik
PPP : Abu Said
PKS : Suhadi
Nasdem : Gunawan  


Dapil 3 (Guntur, Sayung, Karangtengah) 11 kursi
PKB : H Nurul Muttaqin, Churun Chalina Silfiya
Golkar, Sunari, Hj Ike Chandra Agustina
PDIP : H Sugiharno, Khoeron
Gerindra :  Maskuri, H Muntohar
PPP : Latifah
PKS : Safuwan
Nasdem : M Yasin


Dapil 4 (Bonang, Wedung) 8 kursi
PKB : Nur Fadlan, H Syafii Afandi
Golkar : Nur Wahid
PDIP : H Sonhaji
Gerindra : Ahmad Mansur
PPP : H Sabiq
Nasdem : Ibrahim Suyuti
Demokrat : Fatkhan 


Dapil 5 (Gajah, Karanganyar, Mijen) 8 Kursi
PKB : Ghozali
Golkar : Nuryono Prasetyo, Sanipan
PDIP : H Sudarno
Gerindra : Danang Saputra
PPP : Rozikhan Anwar
PKS : Kamzawi
PAN : Farodli


Sumber : www.Tribun

Minggu, 13 April 2014

Antri Nyoblos , Setelah Terima Amplop


Suasana TPS 1 Desa Kedungmutih

Demak - Pemilu tahun 2014 ini merupakan babak baru bagi peserta pemilu. Mereka dengan sekuat tenaga meraih sebesar-besarnya demi kemenangan partainya. Akhirnya beberapa cara dimanfaatkan untuk meraih suara sebanyak-banyaknya.

Entah dinamakan politik uang atau tidak . Namun kenyataannya para pemilih mendapatkan amplop dari tim sukses masing-masing. Isi amplop bervariasi tergantung dari kemampuan si calon legislative. Dari 5 ribu , 10 ribu , 20 ribu sampai 50 ribu.

“ Keluarga saya masing-masing  dapat 7 Amplop dari 7 calon ya saya terima . Nyoblosnya kita bagi semua calon dapat suara “, kata Madun                           ( bukan nama sebenarnya) warga desa Kedungmutih kecamatan Wedung ketika antri Nyoblos di TPS 4.

Madun mengatakan, dia tidak meminta amplop pada tim sukses partai. Namun mereka sendiri datang kerumah warga. Dengan membawa data yang mereka kemudian memberikan sejumlah amplop sesuai dengan jumlah hak pilih. Mereka memberikan amplop sambil berkata ini titipan dari caleg ini.

“ Nilainya paling tinggi dari timses caleg kabupaten . Selanjutnya caleg propinsi dan terendah biasanya caleg DPR RI “, aku Madun.

Dengan pemberian amplop itu Madun mengaku bersemangat untuk datang ke TPS. Sehingga meski harus berpanas-panasan mereka datang antri dengan semangat. Selain dirinya tetangganyapun banyak yang hadir nyoblos karena mendapatkan amplop yang sama.

“ Ya kalau tidak ada amplop ya mendingan di rumah. Kalau tidak yang ke laut mencari ikan “, kata Madun yang kebetulan jadi nelayan.

Antrian pemilih yang menggunakan hak pilih tidak hanya terlihat di TPS 4 saja. Namun keramaian itu terlihat di semua TPS di desa Kedungmutih. Oleh karena itu jumlah kehadiran pemilih tahun ini di perkirakan cukup tinggi.(Muin)


Warga Kalicilik Antre Nyoblos Di Panasan

Antusiasme menyukseskan Pemilu tanggal 9 April 2014 ditunjukkan oleh warga Kelurahan Kalicilik Kecamatan Demak. Mereka rela berdiri berpanas-panasan antre di luar tenda tempat pemungutan suara (TPS) 02 setempat, menunggu giliran namanya dipanggil oleh panitia.
Dari pengamatan demakpos, kehadiran calon pemilih di TPS tersebut sudah mulai berdatangan setengah jam sebelum rapat pemungutan suara dibuka secara resmi. 

Sebagian langsung masuk ke dalam tenda yang disediakan di Kampus SMK Pontren Darussalam Demak dan menempati kursi tunggu yang disediakan. Sedangkan sebagian lainnya menunggu di luar sambil membaca dan mencermati Daftar Nama Calon Anggota Legislatif DPR RI dan DPRD Provinsi Jateng Daerah Pemilihan (Dapil)  Jateng I, serta Daftar Nama Caleg DPRD Kabupaten Demak, dan Calon Anggota DPD Jawa Tengah.


Coblos-7Pemilih rela berdiri berpanas-panas menunggu giliran nyoblos sambil mencermati daftar caleg. (Foto: Machmud)

Meski jumlah calon pemilih pagi itu relatif ramai, namun pelaksanaan coblosan berlangsung aman, tertib dan lancar. Tidak terjadi oyok=oyokan saling mendahului. Para calon pemilih datang ke TPS langsung m,enyerahkan lembar undangan pencoblosan kepada panitia. 

Kemudian mereka mengambil tempat sendiri di kursi kosong di bawah tenda dan atau berdiri di luar menunggu giliran namanya.dipanggil panitia. Setelah menyalurkan hak pilihnya, mereka pun dengan tertib meninggalkan TPS dan kembali ke rumah dan atau tempat kerja (bakulan/pedagang) masing-masing di Pasar Bintoro. (mac)



TPS 1 Kedungmutih , Penghitungan Suara Hingga Malam Hari


Suasana penghitungan suara dengan bantuan lampu

Demak - Pemilu tahun 2014 merupakan pemilu dengan kehadiran pemilih paling tinggi sejak era reformasi. Ini terlihat dari antusiasme warga yang datang ke TPS sejak pagi hari. Pagi ,siang , sore sampai malam haripun warga terlihat ramai di TPS.

Saking antusiasnya warga menggunakan hak pilihnya itu penghitungan suara membutuhkan waktu yang cukup panjang. Meski jam 1 siang pemungutan suara dihentikan.  Namun sampai dengan waktu maghrib tiba baru dua kotak suara yang dihitung.

“ Habis gimana jumlah antrian cukup panjang. Selain itu harus membuat berita acara dan juga tanda tangan saksi . Itu cukup memakan waktu . Maghrib kami baru bisa menyelesaikan penghitungan DPR RI dan DPD “, Ujar Musyafiq Ketua KPPS di TPS I desa Kedungmutih kecamatan Wedung  pada , demakpos (10/4).

Syafiq mengatakan, usai shalat Maghrib penghitungan suarapun dilanjutkan. Kotak  yang berisi suara DPRD provinsi kemudian dihitung. Waktu yang dibutuhkan untuk menghitung dan membuat berita acara kurang lebih 1 jam. Usai penghitungan suara DPRD Provinsi dilanjutkan penghitungan suara DPRD kabupaten.

“ Penghitungan suara kami lanjutkan usai shalat Maghrib. Dan sekitar pukul 20.07 acara penghitungan suara selesai. Empat kotak semua telah selesai dihitung tinggal membuat berita acaranya “, ujar Musyafiq .

Secara keseluruhan pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara berjalan lancar. Petugas TPS menjalankan tugasnya masing-masing. Antrian warga yang menggunakan hak pilihnya juga aman, lancar dan tertib. Kedatangan pemilih cukup antusias.

“ Alhamdulillah pelaksanaan kemarin semuanya lancar. Ini kami melaporkan dan merekap hasil di tingkat PPS “, kata Musyafiq yang di temui di balai desa Kedungmutih. (Muin)


Manaqib Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah

Raden Fattah lahir tahun 1448 Masih/1370 Saka, putra bangsawan Prabu Brawijaya V (Raden Kertabumi) Raja Majapahit ke-11. Ibunya bernama Putri Liang atau Campa. Nama kecil Raden Fattah adalah Pangeran Jimbun, yang oleh Adipati Arya Damar di Palembang, diberinama baru Raden Hasan.

Pada usia 14 tahun, berkelana merantau ke Pulau Jawa. Raden Hasan bertemu dan berguru dengan Kanjeng Sunan Ampel di Surabaya, kemudian diberi nama Raden Fattah. Atas petunjuk dan bimbingan para wali, Raden Fattah bersama pada santerinya mendirikan sebuah masjid di pesisir Laut Jawa, yang kemudian sekaligus dijadikan sebagai pesantren Glagah Wangi.

Inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Masjid Agung Demak dengan condro sengkolo Nogo Mulat Saliro Wani, yaitu prasasti yang menunjukkan angka tahun 1466 Saka. Pada saat itu pula Raden Fattah ditunjuk sebagai mubalig, menggantikan Syeh Maulana Jumadil Qubro yang wafat dan dimakamkan di Trowulan Mojokerto Jawa Timur.

Pada tahun 1475 M, Prabu Brawijaya V memberikan anugrah jabatan kepada Raden Fattah sebagai Adipati dengan gelar Adipati Notoprojo yang berkedudukan di Glagah Wangi Bintoro. Berdasarkan condro sengkolo Kori Trus Gunaning Janmi (tahun 1477 M) Raden Fattah sebagai Adipati Notoprojo di Glagah Wangi menyempurnakan bangunan masjid sebagai masjid Kadipaten.

Diangkat Jadi Sultan

Oleh para wali, Raden Fattah selaku Adipati Notoprojo Glagah Wangi dinilai berhasil membangun pemerintahan dan panutan. Selain cepat menguasai berbagai disiplin ilmu yang diajarkan para wali, Raden Fattah dinilai sebagai seorang satria yang tampan, cerdas, santun, bersahaja, dan halus budi pekertinya sehingga mereka (wali songo) secara bulat mengambil fatwa dan mengangkatnya menduduki ‘tahta

 Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berkedudukan di Kasultanan Bintoro Demak pada tahun 1478 M dengan gelar atau sebutan “Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo”. Tahta kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa ini berjalan tertib, aman dan lancar, serta tidak memunculkan gejolak dan gejolak dari Kerajaan Majapahit.

Setahun menduduki jabatan sultan di Kasultanan Demak Bintoro, Raden Fattah pun 1470 M meresmikan purna pugar Masjid Agung dari statusnya sebagai masjid kadipaten menjadi masjid kasultanan, dengan ditandai sengkolo memet “Saliro Sunyi Kiblating Gustri” yang bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M.

Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo adalah seorang amirul mukminin yang alim, adil dan bijaksana. Beliau memegang tampuk pemerintahan selama 40 tahun (1478-1518 M). Setelah beliau wafat, Kasultanan Demak Bintoro dijabat oleh putra keduanya Raden Pati Unus selama 3 (tiga) tahun, dan oleh adik Pati Unus (putra keempat Raden Fattah) yaitu Raden Trenggono selama 25 tahun (1512-1546).

Kemudian setelah itu selama 14 tahun Kasultanan Demak Bintoro mengalami kekosongan kepemimpinan, akibat terjadinya konflik keluarga. Akhirnya muncul Raden Hadiwijaya yang memegang tampuk pemerintahan mulai 1560 – 1582 dan Kasultanan Demak Bintoro dipindah ke Pajang wilayah Surakarta.

Keturunan Raden Abdul Fatah, adalah: 1) Ratu Mas Panembahan Banten (istri Sunan Gunung Jati, raden Syarif Hidayatullah), 2) Raden Pati Unus, 3) Raden Pangeran Sedo Lepen (Pangeran Suromiyoto), 4) Raden Trenggono, 5) Raden Kanduhuruan, dan 6) Raden Pamekas. (machmud).



Habib Lutfi : Nabi Muhammad Mengajarkan Mauludan Manaqib dan Tahlilan


Mula-mula hanya mengatakan bahwa acara mauludan, manaqiban dan tahlilan adalah bid’ah, yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Setelah itu, tempat-tempat bersejarah seperti rumah tempat Nabi Muhammad saw dilahirkan dibiarkan terlantar tidak terawat, rumah Siti Khadijah diratakan dengan tanah dijadikan terminal, dan masjid-masjid sahabat dimusnahkan, semata-mata untuk menghilangkan jejak dan sejarah kerasulan Nabi Muhammad saw. 

Maka setelah itu, mereka pun dengan leluasa menghapus syirah/tarikh dan menggantinya dengan dongeng, sehingga akhirnya sejarah ajaran Islam hanyalah fiktif. Demikian Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya dari Pekalongan Jawa Tengah, dalam tausiyahnya pada Haul Agung Kanjeng Sultan Raden Abdul Fatah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo ke-511 di halaman Masjid Agung Demak, Sabtu (12/4) malam.

Adalah salah besar apabila Nabi Muhammad saw tidak pernah mengajarkan mauludan, manaqiban dan tahlilan,lanjut Habib Luthfi. Justru mereka inilah yang tidak tahu sejarah, karena mereka hanya terpaku pada teks Al-Qur’an dan Sunah. Mereka tidak mau tahu budaya apa saja yang berkembang di masyarakat kemudian diadobsi oleh Rasulullah untuk melancarkan dakwah islamiyahnya, sehingga Islam dapat diterima oleh masyarakat dalam kurun waktu kurang dari 23 tahun.

Dalam kesempatan yang sama, hal serupa juga disampaikan oleh Dr KH Mustofa Bisri dari Pengasuh Ponpes Roudhotut Tholibin Rembang Jawa Tengah.

“Dalam mendakwahkan Islam di Nusantara ini, para wali songo sangat arif dan meneladani kebijakan Rasulullah sehingga Islam dapat diterima dengan lapang dada oleh masyarakat atheis, animis, Hindu dan Budha. Karena, para wali mengadopsi budaya dan kesenian lokal yang berkembang di masyarakat.

“Tidak ada pertentangan dan tidak ada gejolak. Tetapi justru penyebaran Islam berlangsung sejuk, kondusif dan penuh toleransi”, papar Gus Mus.

“Islam tidak mengutamakan kemasan, tetapi isi. Maka diciptakan wayang dan berbagai macam kesenian lokal oleh para walisongo. Tidak harus berjubah, bercelana cingkrang dan berjenggot untuk menjadi pendakwah. Dengan blangkon, baju beskap kejawen dan mengisi tradisi lama nelung ndino, mitung ndino, matang puluh, nyatus, mendhak dannyewu dan seterusnya, pemeluk Hindu dan Budha merasa diuwongke,” lanjutnya.

“Dengan tidak menyembelih sapi  seperti yang dilakukan Kanjeng Sunan Kudus, masyarakat Hindu beralih memeluk Islam dengan senang hati. Mereka tidak merasa terpaksa dan dipaksa. Ini yang dilakukan oleh para wali, menerjemahkan ajaran Al-Qur’an dan Hadis dengan bahasa rakyat awam yang mudah diterima. Tidak perlu masyarakat dipaksa memahami dan menafsirkan kitab suci dan hadis nabi sendiri” tambahnya. (mac)