Kamis, 29 Mei 2014

ANIMO MENDAFTAR PPDU 2014 Di MTS NEGERI GAJAH SANGAT TINGGI


Salah stu kegiatan di MTs Negeri Gajah

Program MTs Negeri Gajah membuka PPDU (Penerimaan Peserta Didik Unggul) atau BCS  ( Bilingual Boarding School) MTs Negeri Gajah untuk tahun pelajaran 2014/2015 mendapat animo yang sangat tinggi dari masyarakat. PPDU dimaksudkan untuk menjaring calon Peserta Didik yang memiliki potensi akademik atau kemampuan intelektual, berakhlaq mulia / berkepribadian dan keterampilan terbaik di antara peserta didik di sekolah/madrasah asal.
Tujuan penerimaan peserta didik melalui program PPDU MTs Negeri Gajah 2014 adalah memilih calon peserta didik yang memiliki kemampuan akademik, kematangan mental dan keterampilan untuk dapat menyelesaikan pendidikan MTs Negeri Gajah Demak dengan hasil yang maksimal, unggul  dan sukses di masyarakat.
Pendaftaran PPDU MTs Negeri Gajah 2014 yang dibuka mulai tanggal 7  April 2014. Hari ini, Jum’at 24 Mei 2014  jam 09.30 WIB jumlah pendaftar sudah mencapai 228 orang, yang terdiri dari pilihan BCS Boarding 117 orang, BCS Non Boarding 111 orang . Dari data yang ada, jumlah pendaftar yang berasal dari SD ada 180 orang, dan dari MI 48 orang.  Jumlah pendaftar laki-laki ada 79 orang, dan perempuan ada 149 orang.
Pendaftaran PPDU MTs Negeri Gajah 2014  masih dibuka sampai besok Sabtu 25 Mei 2015 sampai  jam 12.00 WIB.  Buat  Peserta Didik  SD/MI kelas VI yang berprestasi, segera daftar PPDU MTs Negeri gajah 2014 Demak  untuk masa depan yang lebih baik.

Ahmad Muhibbi , Pengepul Kepiting dari Desa Kedungkarang


Ahmad Muhibbi sedang memilah kepiting


Demak -
Desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak saat ini masih menjadi satu-satunya desa pemasok kepiting bakau di daerah Demak dan sekitarnya. Selain banyak pemburu kepiting di desa ini banyak pula warganya yang membuka usaha sebaagai pengepul kepiting bakau yang mengumpulkan hasil kepiting dari para pemburu dan juga pembudidaya kepiting di kolam.
Salah satu pengepul kepiting yang cukup dikenal adalah Ahmad Muhibbi (40) . Di rumahnya setiap hari dia mengumpulkan puluhan hingga ratusan kepiting yang dibelinya dari para pemburu atau bakul di pasar . Setelah terkumpul banyak Kepiting itu selanjutnya dipasarkan ke berbagai tempat sekitar Demak juga sampai luar kota seperti Semarang, Solo dan Yogyakarta. Jenis kepiting bakau yang ia jual terdiri dari kepiting biasa dan kepiting bertelor. Unttuk harga kepiting selalu fluktuasi tergantung dari hasil tangkapan atau pasokan.
istri pak Muhibbi sedang timbang kepiting

“ Jika pasokan dipasar banyak otomatis harga turun sendiri , begitu juga perolehan dari para pemburu kurang harga akan naik sendiri . Namun untuk normalnya perkilo kepiting biasa berkisar Rp 40 ribu – 50 ribu dengan jumlah isi 5/6 kepiting. Untuk Kepiting bertelor harganya bisa dua kali lipat “, ujar Muhibbi pada wartademak sambil memilah-milah kepiting bakau.
Ahmad Muhibbi mengemukakan , usaha jual beli kepiting yang ditekuninya adalah meneruskan usaha orangtuanya dan juga mertuanya , setiap hari dia datang ke pasar untuk mencari dagangan. Selain itu banyak pula pengepul kecil atau pemburu kepiting yang datang langsung menjual hasil kepiting padanya. Istrinya di rumah melayani para penjual dan juga para pembeli yang langsung datang kerumahnya. Para pembeli yang datang biasanya para pelanggan yang memang membutuhkan kepiting dengan kualitas bagus. Jika memilih sendiri di pasar mereka kesulitan.
“ Selain kami setorkan ke pelanggan di kota , banyak pula para pembeli yang datang langsung ke rumah saya . Sehingga di rumah kami juga menyediakan kepiting bakau ini untuk para pelanggan “. Kata Muhibbi.
Dari usahanya jual beli kepiting ini Muhibbi mengakui sudah banyak mendapatkan hasil , selain bisa memperbaiki rumahnya , membiayai anak sekolah, dan juga untuk keperluan belanja sehari-hari. Oleh karena itu sampai sekarang usaha jual beli kepiting itu ditekuni sampai sekarang, bahkan dalam setiap kesempatan ia membuka daerah pemasaran baru agar jumlah penjualan semakin banyak.
Setiap hari di rumahnya ia sibuk mengatur kepiting yang akan disetorkan ke kota , selain memilah-milah menurut besar kecilnya kepiting juga memilihnya yang khusus bertelor. Harga kepiting tergantung dari jumlah perkilonya makin sedikit harga lebih mahal . Sedangkan untuk harga kepiting bertelor memang istimewa dibandingkan yang lain karena selain rasanya yang benar-benar lezat juga banyak diburu orang.
“ Kalau membeli disini kami jamin benar-benar-bertelor , tapi kalau sudah nyampai di kota kadang orang bisa terkecoh dari bentuk dan warna . Dilihat seperti bertelor namun ketika dimasak tak ada isinya “, papar Muhibbi. (Muin)
Profil usaha : Jual Beli Kepiting Bakau
Nama : Ahmad Muhibbi
Alamat : Desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak
No HP : 081325732594

Bisa Nyalon Lagi Kades Kedungmutih Pilih Istirahat


Hamdan Kepala desa Kedungmutih

Demak – Keputusan Kepala Desa dan Petinggi desa bisa menjabat tiga periode sudah final. Sehingga Kepala Desa dan Petinggi bisa diperbolehkan lagi untuk mencalonkan diri untuk jabatan yang ketiga. Adapun masa jabatannya hanya 6 tahun dalam satu periode kepemimpinan. Dengan  kata lain  seseorang bisa menjabat kepala desa selama 18 tahun jika warga memilihnya.

Keputusan yang dituangkan dalam Undang-Undang desa tersebut diatas ditanggapi beragam oleh para Kepala desa maupun petinggi. Ada yang senang dengan keputusan tersebut. Namun banyak pula yang kurang sependapat dengan keputusan tersebut.

“ Untuk menjabat Kepala Desa yang ketiga kalinya saya kira hal itu cukup berat . Lha wong untuk jabatan kedua saja banyak yang tumbang . Sebagai contoh di Jepara kemarin incumbent yang jadi di bawah 30 persen “, ungkap Hamdan Kepala Desa Kedungmutih pada Warta Demak, Kamis (29/5).

Hamdan (60) yang menjabat Kepala Desa sudah 2 periode ini mengatakan, dalam pertarungan awal ia merasa ringan dari segi biaya dan juga proses. Namun untuk jabatan yang kedua biaya yang dikeluarkan cukup mahal. Padahal dalam kepemimpinannya yang pertama tidak ada kecacatan yang fatal.

“ Namun karena Kepala Desa adalah jabatan prestige maka apapun akan dijalankan orang untuk mendapatkan jabatan tersebut. Meski harus beradu otot dan juga uang bahkan tipu muslihat dilakukan untuk meraih jabatan tertinggi di desa itu “, ungkap Hamdan

Oleh karena itu meski ia diperbolehkan mencalonkan diri lagi menjadi Kepala Desa dia tidak tertarik hal itu. Selain harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit tentunya harus beradu segalanya dengan lawan tandingannya. Baiknya memimpin desa dalam waktu satu periode , bisa hilang begitu saja karena fitnahan lawan.

“ Awal tahun 2015 ini masa jabatan saya habis. Meski beberapa pendukung masih setia namun saya memutuskan untuk beristirahat. Apalagi sudah ada kesibukan baru mengelola Pabrik garam ini “, tutur Hamdan yang juga sebagai pimpinan Pabrik Garam Iodium “Lancar Sejahtera” Kedungmutih.

Oleh karena itu meskipun Kepala Desa diperbolehkan mencalonkan diri untuk periode ketiga . Namun ia yakin kesempatan itu tidak banyak yang dimanfaatkan oleh Kepala Desa incumbent. Jabatan dua periode saja kadang tidak bisa terselesaikan apalagi untuk yang ketiga kalinya.


“ Mending masa jabatannya saja yang ditambah misalnya 8 tahun , dan pencalonan hanya dua periode saja. Karena dengan dua kali calon dan tiga kali calon biaya lebih ekonomis hanya dua kali calon “, kata Hamdan yang juga dituakan oleh Kepala Desa sekecamatan Wedung. (Muin)


Di Desa Kedungmutih Pohon Jambu Merahpun Berbuah Lebat




Demak – Saat ini Demak merupakan salah satu pemasok Jambu Merah jenis citra maupun delima . Selain dipasarkan disekitar kabupaten Demak  jambu dari kota Wali ini menyebar ke berbagai penjuru. Selain pasar tradisional Jambu Demak ini bertengger di rak-rak minimarket kota-kota besar. Bahkan kini jambu menjadi icon baru kota Demak.

Jambu Demak ini dulunya dikembangkan dari desa Betokan dan sekitarnya. Namun seairing dengan perkembangan waktu dan keadaan tanaman jambu ini sudah menyebar ke seluruh penjuru wilayah Demak. Bahkan di desa Pesisir seperti Kedungkarang dan Kedungmutih pohon Jambu Merah ini tumbuh baik dan berbuah lebat.

“ Kalau tidak salah pohon Jambu Merah ini hasil cangkokan dari teman adik saya daerah Bonang . Setelah kami tanam di belakang rumah ini bisa tumbuh dengan baik dan sudah panen beberapa kali “, ujar Habibah warga desa Kedungmutih pada Warta Demak, Kamis (29/5).

Petik Jambu Merah


Habibah mengatakan, menanam Jambu Merah ini tidaklah sulit . Pohon hasil cangkokan itu tinggal di tanam di pekarangan rumah . Jika masih kecil perlu penyiraman secara berkala. Namun setelah tumbuh baik daunnya lebat kita tinggal mengawasinya sesekali di beri pupuk. Selain itu dijaga dari hama dan gangguan hewan  seperti kambing dan ternak lainnya.

“ Mungkin kalau perawatannya bagus 6-7 tahun setelah di tanam jambu mulai bisa di panen. Awalnya memang buahnya tidak begitu lebat. Lama kelamaan makin lebat. Jika ngepasi baik buah dan daun justru kelihatan banyak buahnya “, papar Habibah yang Guru Agama sebuah Sekolah Dasar.

Selain dirinya di desa Kedungmutih ini warga yang menanam Jambu Merah ini cukup banyak meski hanya mempunyai 1-2 pohon di halaman mereka. Bibit tanaman jambu itu selain ada yang membeli atau mencangkok dari tempatnya. Banyak pula yang membeli dari penjual tanaman yang ider dari kampung ke kampung.



Menurut Ibu dari 3 anak ini , jika dikembangkan secara baik bertanam jambu ini bisa mendatangkan penghasilan yang lumayan. Saat ini harga Jambu Merah dengan kualitas bagus setiap kilonya bisa mencapai Rp 15 ribu – Rp 20 ribu. Yang sedang harganya berkisar Rp 10 ribu – 12 ribu dan kulaitas rendah Rp 5 ribu – 10 ribu.

“ Karena ini hanya sebagai pengisi ruang kosong saja ya Jambu hasil dari tanaman ini biasanya dimakan sendiri. Jika berlimpah ya diberikan tetangga agar merasakan manisnya Jambu Merah ini “, kata Habibah

Di wilayah RT 02 RW 02 setidaknya ada 15 rumah yang mempunyai tanaman Jambu di halaman depan dan belakang rumahnya. Biasanya tidak ada perawatan yang istimewa pada tanaman jambu ini. Namun demikian setiap tahun tanaman ini bisa panen minimal 2 kali setahun. (Muin)








Bambu Masih Tetap di Buru Sebagai Pengganti Kayu


Bambu diturunkan dari truk

Demak – Sejak dahulu bambu dikenal sebagai tanaman yang mempunyai banyak manfaat. Selain digunakan sebagai bahan kerajinan tangan untuk berbagai keperluan. Tanaman jenis rumput-rumputan ini juga dibutuhkan para nelayan dan petani tambak sebagai bahan bangunan sebagai pengganti kayu.

Bambu ini oleh para nelayan dibuat untuk bagan-bagan tancap atau apung dilaut. Bambu itu dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menyanggah jaring untuk menangkap ikan. Satu bagan tancap atau apung membutuhkan bambu puluhan hingga ratusan tergantung dari besarnya bagan tancap atau apung.

Sedangkan para petani tambak membutuhkan bamboo ini sebagai tiang pembuat gubug atau gudang garam. Dengan tiang bambu ini biaya pembuatan gudang lebih murah jika dibandingkan dengan kayu. Oleh karena itu jika musim garam tiba rezeki penjual bamboo cukup berlimpah.

“ Meski kayu lebih awet , namun harga kayu cukup mahal. Petani tambak masih membutuhkan bamboo. Satu gudang garam sedang setidaknya butuh bamboo lebih 50 batang “, ujar Zaedun penjual Bambu di pasar lama desa Kedungmutih.

Zaedun yang membantu usaha ibunya mengatakan , bambu-bambu jualannya itu ia pasok dari daerah Jepara seperti Mayong, Nalumsari , Bate , dan daerah hutan lainnya. Biasanya pembelian bambu dengan cara borongan satu truk dengan ukuran beragam.

Sesampainya di tempat bambu-bambu itu seterusnya dipilah-pilah sesuai dengan ukurannya . Ada ukuran  bambu besar panjang , besar sedang , dan kecil. Harga yang ditawarkan kepada konsumen juga berbeda-beda tergantung dari jenis dan panjangnya. Harga yang ditawarkan berkisar Rp 10 ribu – Rp 100 ribu.

“ Biasanya kalau untuk pembuatan bagan apung membutuhkan bambu dengan ukuran sedang sampai besar harga perbatang bisa sampai 100 ribu. Tetapi jika untuk membuat peralatan oleh garam biasanya bambu ukuran sedang atau kecil “, cukup.

Usaha penjualan bambu ini menurut Zaedun cukup prospektif dengan keuntungan yang lumayan besar. Tinggal pandainya kita menaksir harga borongan pembelian bambu dari pengepul  asal Jepara dan daerah lainnya. Selain itu juga pandai-pandainya kita memilah bambu sesuai dengan jenis dan peruntukkannya.


“ Ya yang namanya usaha ya kadang untuk besar , ya kadang untuk sedikit. Pandai-pandainya kita mengatur keuangan. Yang penting kita bagus melayani pelanggan keuntungan akan datang dengan sendirinya”, kata Zaedun yang membuka usaha hampir 6 tahun. (Muin)


Selasa, 27 Mei 2014

Peternak Kambing Desa Kedungkarang Kekurangan Modal

Kambing pak Mat Lawi baru 2 ekor

Demak – Desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak merupakan desa pesisir . Warganya kebanyakan mengandalkan tambak dan laut sebagai lahan penghidupan mereka. Namun beberapa warga ada yang membuka usaha sampingan dengan beternak kambing.

Di belakang desa tepatnya di bibir sungai SWD 1 tampak gubug-gubung kecil dengan dinding gedheg dan beratap genting. Di kandang itulah mereka memelihara kambingnya. Di bantaran kali itulah ada sekitar 10 kandang kambing yang berjejer rapi.

“ Ya kurang lebih ada setahunan kami memindah kandang dari kampong ke tempat ini. Untuk biaya pembuatan kandang ini tergantung yang kecil 1 juta cukup sedangkan yang besar lebih satu juta “, ujar Mat Lawi warga RT 04 RW 02 pada FORMASS, Selasa (27/5).

Mat Lawi mengatakan ia beternak kambing sudah lama. Pekerjaan pokoknya adalah mencari ikan dilaut. Dulu ia membuat kandang kambing di seputaran rumahnya. Namun seiring dengan waktu kandang kambing di kampong tidak layak lagi.

Kandang kambing milik peternak desa Kedungkarang


Selain menganggu pemandangan bau dari kotoran kambing juga tidak menyehatkan. Oleh karena itu ia bersama teman-temannya sepakat untuk membuat kandang di bantaran sungai. Selain jauh dari kampung kotoran kambing bisa langsung ke sungai.

“ Kalau saya karena keterbatasan modal membuat kandang kecil maksimal untuk kambing 10 ekor. Selain saya itu kandang pak Mutadi , Sonari , pak Atma dan Pak Basir “, kata Mat Lawi sambil menunjukkan kandang kambing di bantaran kali SWD 1.

Kekurangan Modal

Menurut Mat Lawi beternak Kambing sebagai sambilan cukup prospektif dan menguntungkan. Namun karena keterbatasan modal usahanya ini tidak bisa maksimal. Dulu ia mempunyai kambing 5-6 ekor , tetapi setelah terpotong untuk membuat kandang modalnya menipis ia baru bisa membeli kambing 2 ekor saja.

Dua ekor kambing itu ia beli seharga dua juta rupiah . Induk dan anakannya itu ia pelihara di dalam kandang dengan makanan hijauan dari sekitar kandang. Harapannya setengah sampai satu tahun kedepan kambinngnya bertambah karena induknya sudah beranak sedangkan anaknya sudah tumbuh jadi besar.

Pak Mat Lawi di depan Kandang Kambingnya


“ Inginnya sih memelihara kambing banyak paling tidak 10 ekor biar cucuk. Tetapi modal baru segitu ya kita jalankan. Mudah-mudahan ada modal tambahan atau bantuan dari pemerintah jadi kambing saya bisa bertambah”, harap Mat Lawi.

Ketika ditanya masalah bantuan untuk peternak  Mat Lawi dan teman-temannya mengaku belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Mereka berharap ada bantuan atau pinjaman  lunak dari pemerintah agar usaha ternak kambingnya menjadi besar. Selain itu hasilnya bisa untuk menambah kebutuhan keluarga.

“Mbok tolong kami dibantu pak , peternak sini masih membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha ternak disini “, kata Mutadi teman Mat Lawi. (Muin)



Tanggul SWD I di Desa Kedungmutih Wedung Jebol

Tanggul sebelah selatan jebol

Demak – Tanggul sungai SWD I yang melewati desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak kondisinya memprihatinkan. Dibeberapa titik sudah sangat kritis , sedangkan di bagian selatan sungai ada yang jebol sekitar 5 meter panjangnya.

“ Jebolnya tanggul disebelah selatan sudah lebih setahun  tahun. Namun belum ada penanganan dari pemerintah “, kata Suhari petani tambak dari desa Kedungmutih pada WARTA DEMAK , Rabu (28/5)

Jebolnya tanggul sungai SWD I tersebut menurut Suhari akibat dari limpasan air banjir beberapa waktu yang lalu. Ketika terjadi banjir Mijen air dari Timur mengarah ke barat . Semua tambak garam tergenang air beberapa gudang garam ludes diterjang air banjir.

“ Air begitu besar dengan arus yang cukup tinggi . Tanggul sebelah selatan yang terendah jadi jalannya air keluar . Saking besarnya arus tanggul akhirnya jebol “, cerita Suhari yang juga Ketua BPD desa Kedungmutih.

Sedangkan  tanggul SWD I bagian utara di beberapa titik juga mengalami kritis, bahkan ada yang hampir jebol. Rusaknya tanggul tersebut diakibatkan oleh banjir besar di desa Tedunan bulan Januari yang lalu. Saking besarnya air ketika air sungai surut airpun menjebol tanggul di beberapa titik.

Hamdan Kepala Desa Kedungmutih ketika dikonfirmasi masalah tersebut membenarkan. Tanggul sungai SWD 1 kondisinya sudah sangat memprihatinkan . Setelah banjir bulan Februari yang lalu fihaknya telah mengajukan proposal pada pemerintah untuk merehab tanggul yang rusak itu.

Tanggul sebelah Utara  kritis


“ Jelas akibat banjir kemarin tanggul di sungai SWD 1 kerusakannya sangat parah . Sebelah Selatan jebol dan utara kritis . Jika rob pasang air laut dengan mudah masuk kampung dan tambak. Sudah saya ajukan tetapi belum ada respon “, kata Hamdan.

Menurut Hamdan rusaknya tanggul sungai SWD 1 akan berdampak pada kerugian warga masyarakat jika tidak ditangani dengan segera . Selain tanggul ditinggikan dan dirapikan dia juga mengajukan pintu saluran air secara terpadu.

Dengan adanya pintu air terpadu tersebut diharapkan tidak ada lagi tambak atau kampong tergenang air. Jika kondisi air dalam tambak besar air bisa keluar dengan cepat. Sedangkan  jika kondisi air sungai tinggi pintu air tinggal di tutup . Air pasang atau banjir tidak akan memasuki kawasan tambak maupun perkampungan.


“ Mudah-mudahan terealisasi tahun ini sehingga musim penghujan yang akan datang kita tidak was-was lagi seperti bulan Januari yang lalu hamper semua rumah di sini kemasukan air karena rusaknya tanggul SWD 1” , harap Hamdan ( Muin ).


Berziarah Ke Makam Habaib Di Sapuro Pekalongan

Kota Pekalongan yang dikenal sebagai kota santri  sejak dulu dikenal pula sebagai kota yang religious utamanya sebagai salah satu tempat penyiaran agama Islam , salah satu bukti peninggalan yang masih dapat kita saksikan sampai sekarang adalah komplek Makam Habaib di kelurahan Sapuro. 

Di desa yang dikenal dengan makamnya yang luas itu ada makam para Habaib yang dikenal sebagai leluhurnya para habaib yang sekarang tersebar dimana-mana. Selain itu di komplek pemakaman ini juga bersemayam buyut, embah dan orang tua Habib Lutfie ulama yang terkenal sebagai guru thoreqoh Sadzaliyah yang muridnya tersebar dimana-mana. 

Oleh karena itu setiap hari makam habaib ini tiada sepi dari para peziarah yang datang untuk mendo’akan beliau sekaligus memohon barokah kepada Allah SWT, puncak keramaian itu nyata ketika malam Jum’at Kliwon tiba . Komplek makam ini penuh para peziarah yang terus berganti-ganti , hingga puncaknya Jum’at pagi ketika para habaib juga datang berziarah ke makam ini yang kehadirannya telah ditunggu oleh para peziarah.

Bangunan makam para habaib di Sapuro
“ Saya datang dari Jepara pagi nanti ikut pengajian Jum’at Kliwon di Gedung Sholawat , sebelum pengajian saya ziarah dulu di makam habaib ini , selain itu tak ketinggalan saya juga berziarah di makam leluhur Habib Lutfie yang arahnya di sebelah sana “ , ujar Bambang sambil menunjukkan sebuah cungkup makam yang juga banyak diziarahi orang.
Sementara itu KH. Masduqi Ridwan ulama dari Jepara yang juga sering berziarah ke makam ini mengatakan , makam habaib di Sapuro ini erat kaitannya dengan kegiatan pengajian di gedung sholawat yang diadakan rutin setiap Jum’at Kliwon. Oleh karena itu sebelum mendatangi pengajian di pagi harinya , malamnya saya menyarankan rombongan untuk berziarah ke makam Habaib di Sapuro ini , karena habaib yang bersemayam disini dulunya juga ulama besar yang berperan aktif dalam penyebaran agama Islam dan juga memberi pencerahan umat Islam di penjuru Indonesia . 

Salah satu keturunan beliau para habaib itu adalah Habib lutfi bin Ali bin Hasim bin Yahya yang dikenal sebagai Ketua Jam’iyyah Ahlut Tariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN), organisasi di bawah NU yang mengkoordinasi jemaah tarekat Mu’tabarah. Sebagai perwujudan menghargai mereka sebelum thalabul ilmu kita juga mendoa’akan arwah para habaib agar do’a itu bisa juga lumeber pada kita semua.


Penulis di depan komplek makam habaib sapuro

“ Ya ini komplek makam leluhur habib lutfie , sehingga siapapun yang akan menghadiri pengajian di gedung sholawat afdholnya berziarah ke makam ini baik sebelum mendatangi pengajian atau sesudahnya tergantung dari waktu yang ada “ , ujar KH. Masduqi yang menemani penulis untuk berziarah ke makam ini pertama kali.

Memang dari pantauan komplek makam para Habaib di Sapuro mengalami lonjakan peziarah yang cukup tinggi semenjak pengajian Jum’at Kliwon di gelar , apalagi setiap waktu jumlah jamaah dari perkumpulan ini terus bertambah . Hal ini merupakan keuntungan tersendiri bagi warga sekitarnya dengan ramainya peziarah ke makam ini , sehingga mereka dapat membuka usaha yang berkaitan dengan pelayanan para peziarah .

 Diantaranya membuka warung makan,membuka usaha penjulan oleh- oleh atau cideramata , penginapan sampai dengan tempat parkir untuk kendaraan roda dua atau empat. Jika kondisi sedang ramai areal parkir di makam ini penuh sesak dengan kendaraan oleh karena itu para peziarah memanfaatkan halaman rumah warga dan juga pekarangan untuk tempat parkir.

“ Ya lumayan daripada tidak ada pekerjaan mending bantu teman-teman ngatur parkir mobil disini , bisa dapat uang untuk makan . Lumayan lah sehari mobil yang parkir disini ada ratusan mobil yang datang silih berganti , apalagi jika malam Jum’at Kliwon begini mobil dari mana-mana ada disini “ cerita salah satu tukang parkir yang asli warga Sapuro.
Gerbang Makam Sapuro
Bagi yang belum pernah berziarah ke makam ini routenya cukup mudah , setelah memasuki kota Pekalongan , setelah jembatan besar ada pertigaan yang menuju desa Sapuro kemudian masuk kurang lebih 300 meter akan ketemu tempat pemakaman yang luas .

 Disebelah Barat makam ada bangunan cungkup besar dengan tempat parkir luas dan Musholla itulah makam para habaib berada , kalau makam dari eyang ,simbah Habib Lutfi sebelah timur kurang lebih 100 meter. (FM)

Fatkhul Muin
Pengelola Blog : Pusat Informasi Masyarakat Pesisir (http: www.For-Mass.Blogspot.com