Tampilkan postingan dengan label Garam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Garam. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 September 2014


Garam Hasil Meja Kristal Isolator Di Hargai Lebih Mahal


Demak – Pada musim garam tahun 2014 ini salah satu petani garam di desa Kedungmutih kecamatan  mendapatkan bantuan berupa demplot pegaraman. Demplot itu berupa penggunaan media isolator (plastic) pada meja kristalisasi garam. Biasanya petani membuat meja kristalisasi garam langsung berupa tanah.

“ Setelah saya coba menerapkan media isolator ini ada peningkatan dari garam yang kami panen dari meja kristalisasi , selain bersih juga warnanya lebih putih “, kata Musa Abdillah petani garam Kedungmutih yang lahannya dijadikan demplot percontohan dari Kementrian Perindustiran.

Musa mengatakan setelah dia menggunakan meja isolator hasil garam dalam satu meja ketika di panen  juga mengalami peningkatan. Jika dengan menggunakan meja tanah setiap panen hanya 39 keranjang dengan bobot 30 kg. Tetapi setelah dia menggunakan meja isolator garam yang dipanen bisa mencapai 44 keranjang dengan berat rata-rata 35 kg.

“ Sehingga kami hitung dalam satu kali ambil saja selisihnya sekitar 370 Kg . Jika dalam satu bulan kita ambil 5 kali selisihnya sudah 1.850 kg. Jika kita hitung dalam satu kali masa panen bisa mencapai 9.250 Kg kan lumayan banyak“, ujar Musa Abdillah.



Dari segi harga menurut Musa garam dengan media isolator ini juga lebih mahal . Sementara ini setiap kilogramnya terpaut Rp 100 dan perkwintal Rp 10 ribu. Sehingga dari percontohan yang ia kerjakan ini ia sudah bisa menarik kesimpulan bahwa penggunaan media isolator bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas garam.

“ Yang lebih prospektif lagi garam dari hasil media isolator ini banyak di cari para pengepul garam. Mereka sudah mengambil sampel di lahan kami hasilnya mereka tertarik dan mau membeli garam dengan harga yang lebih bagus dibandingkan  garam dari meja tanah “, kata Musa lagi

Oleh karena itu ke depan ia akan memberdayakan anggota kelompoknya untuk membuat garam dengan media isolator ini. Namun ada kendala yang menghadang berkaitan dengan biaya isolator yang cukup mahal.Oleh karena itu dibutuhkan peran lembaga keuangan untuk membiayai alih tehnologi ini.

“ Ya mudah-mudahan ada lembaga keuangan atau perbankan yang mau membiayai kami untuk alih tehnologi dari meja kristalisasi tanah ke media kristalisasi garam isolator ini “, harap Musa. (Muin)

Petani Garam Demak Panen Raya Garam, Berharap Harga Tidak Anjlok



Demak – Petani Garam di kecamatan Wedung kabupaten Demak bulan Agustus ini telah panen raya. Seluruh lahan tambak garam di 6 desa yaitu Kendalasem, Tedunan, Kedungkarang, Kedungmutih, Babalan , dan Berahan Wetan sudah menuai hasil. Rata-rata mereka menjual langsung hasil garamnya pada pengepul yang kemudian di pasarkan ke wilayah lain.

“ Untuk panen perdana biasanya para petani garam menjual seluruh hasil garamnya. Selain untuk biaya pengolahan lahan dan membeli peralatan juga harga garam masih bagus “, kata Busri pengepul garam krosok dari desa Kedungmutih pada FORMASS, Rabu (20/8).

Busri mengatakan harga garam saat ini masih lumayan tinggi dibandingkan tahun yang lalu. Selain pasokan garam di pabrik –pabrik kebanyakan sudah menipis . Pembuatan garam pada musim ini juga sulit karena awal-awal sering turun hujan. Sehingga waktu panen raya agak mundur dibandingkan tahun yang lalu.

“ Tetapi untuk bulan Agustus ini semua petani kelihatannya sudah panen garam semua. Garam-garam mereka langsung dijual pada para bakul termasuk saya, Harga garam saat ini berkisar 400 – 500/kg tergantung kualitasnya “, tambah Busri.

Munasikun (55) petani garam dari desa Kedungmutih mengatakan, musim garam tahun ini memang mundur dibandingkan tahun yang lalu. Biasanya bulan Mei atau Juni sudah panen namun pada tahun ini panen raya jatuh di bulan Agustus. Dia termasuk salah satu petani garam yang menangguk hasil garam.



“ Sebelum lebaran saya sudah merasakan hasil garam meskipun belum banyak. Nah pada bulan Agustus ini boleh dikatakan panen raya karena setiap hari saya bisa memungut garam dari lahan ini “, kata Munasikun.

Munasikun mengaku lahan garam yang ia garap bukan miliknya sendiri. Ia menyewa lahan garam pada orang lain . Ia berharap musim garam tahun ini panjang seperti tahun yang lalu sehingga biaya sewa bisa tertutup dan ia dapat keuntungan yang banyak. Selain itu harga garam juga tidak anjlok setelah panen raya.

“ Ya sebagai orang kecil harapan saya ya harga garam jangan anjlok setelah panen raya. Biasanya setelah panen harga garam langsung anjlok . Bahkan kadang-kadang tidak ada bakul yang membeli garam “, tambah Munasikun.

Munasikun berharap pemerintah ikut campur dalam hal pembelian garam dari petani. Ketika harga garam jatuh atau anjlok pemerintah lewat dinas terkait diharapkan bisa mengendalikan harga garam. Pengalaman yang sudah-sudah harga garam selalu anjlok ketika panen raya.

“ Kalau tidak begitu ya bagaimana caranya kami ini bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan harian sedangkan garam kami simpan . Bila harga naik kembali baru kita jual “, harap munasikun. (Muin)

BUTUH GARAM KROSOK DARI DEMAK  
HUBUNGI : HAMZAWI ANWAR - 085727809314

Minggu, 25 Mei 2014

Pabrik Garam Iodium Kedungkarang Akhir 2014 Dioperasikan



Demak – Desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak akhir tahun 2014 ini berdiri pabrik Garam beriodium. Saat ini bangunan tempat pengolahan garam ini sudah berdiri dan beberapa mesin pengolahnya juga sudah disiapkan. Bak-bak pencucian garam juga sudah selesai dibuat.

“ Untuk tanah serta bangunan semua asset dari kelompok , sedangkan beberapa mesin pengolah ini bantuan dari pemerintah lewat Dinas Kelautan Demak “, kata Muhdi Kepala desa Kedungkarang kecamatan Wedung pada FORMASS, Sabtu (24/5)

Muhdi mengatakan Pabrik Garam iodium pengelolaannya lewat Kelompok Usaha Bersama (KUB) “Sido Maju”. Anggota kelompok tersebut adalah para petani garam. Diharapkan dengan pengolahan menjadi garam konsumsi beriodium ini hasil garam dari desa Kedungkarang lebih meningkat lagi.



“ Biasanya para petani garam sini menjual hasil garam mereka berbentuk garam krosok non beriodium. Tetapi setelah ada pabrik ini kita mengharapkan ada produk baru dari desa Kedungkarang”, terang Muhdi.

Selama ini petani garam dari desa Kedungkarang merupakan pemasok garam krosok daerah Juwana Rembang, Solo dan juga Lampung. Garam krosok ini dibawa para pengepul untuk mensuplai pabrik garam iodium di Pati dan Rembang. Garam krosok tersebut setelah men jadi garam konsumsi dipasarkan kembali ke daerah Demak , Kudus ,Jepara dan Semarang.

“ Jadi setelah ada pabrik garam beriodium ini kita tidak perlu mendatangkan garam iodium dari sana. Bahkan kita nanti bisa memasarkan garam iodium ini di daerah Demak atau ke luar daerah “, tambah Muhdi.




Dalam pembuatan pabrik garam iodium ini kelompok telah menghabiskan dana lebih seratus juta rupiah. Diantaranya untuk penyediaaan tanah , bangunan dan beberapa peralatan tambahan lainnya. Peralatan bantuan dari pemerintah belum lengkap semua.

Diantara kekurangan peralatan untuk pengolahan garam iodium ini antara lain. Mesin penggilingan garam , mesin cuci dan oven. Setidaknya ia masih harus mengeluarkan uang dari kantongnya sekitar 50 juta lagi. Namun ia optimis bisa terpenuhi semua sehingga akhir tahun ini pabrik garam iodium di desa bisa beroperasi.

“ Ya kalau tidak ada halangan pada musim garam tahun ini kita sudah bisa mengolah garam krosok menjadi garam beriodium.  Mudah-mudahan semua lancar”, harap Muhdi.

Desa Kedungkarang merupakan salah satu desa sentra garam krosok di kecamatan Wedung . Diharapkan dengan berdirinya pabrik garam ini bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi. Perekonomian di desa pesisir ini diharapkan lebih maju lagi. (Muin).


Minggu, 11 Mei 2014

Tunggu Harga Naik , Busri Masih Tahan Garam Dalam Gudang


Busri dan garam simpanannya

Demak – Meskipun musim kemarau mulai diambang pintu , namun hal ini tidak membuat “grogi” Busri pengepul garam dari desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak. Garam simpanannya sekitar 300 ton masih ngendon di gudang. Dia berharap masih ada kenaikan harga garam satu atau dua bulan ke depan.

“ Biasanya kalau sudah bulan April atau Mei harga garam tidak merosot seperti ini . Padahal stok garam ditingkat petani sudah menipis apalagi saat ini masih turun hujan “, ujar Busri padaFORMASS , Sabtu (10/5).

Busri mengatakan kerugian petani garam di musim yang lalu cukup banyak selain harga garam yang cenderung turun. Bulan Januari yang lalu banjir besar juga melanda . Puluhan gudang garam petani hancur diterjang oleh air banjir.

“ Saya sendiri kehilangan garam lebih dari 100 ton di gudang. Ada ratusan petani yang nasibnya sama dengan saya. Jadi stok garam habis karena diterjang banjir “, tambah Busri.

Menurut Busri merosotnya harga garam ini terjadi hanya pada tahun ini saja. Yang sudah-sudah jika musim penghujan tiba harga garam pasti beranjak naik.  Ketika panen raya harga jatuh sudah biasa karena kelebihan barang.

Garam Curah dalam gudang

“ Tapi tahun ini kelihatannya sulit bagi petani untuk memprediksikan harga garam. Meskipun saat ini stok garam sudah menipis namun harga garam tidak ada kenaikannya “, kata Busri

Namun demikian dia tidak berkecil hati. Meskipun saat ini masih rugi namun ia bersabar untuk menahan stok garamnya di dalam gudang. Dia berharap hujan masih terus mengguyur sehingga musim garam mundur satu atau dua bulan ke depan.

Garamnya sejumlah 300 ton masih dibiarkan didalam gudang . Iapun menyibukkan diri dengan menggarap lahan tambaknya. Selain hidup dari berjualan garam iapun hidup dari memelihara udang dan Bandeng.


“ Ya gimana lagi belum ada kenaikan ya di tahan dulu. Siapa tahu tidak ada musim garam karena hujan terus . Harga garam pasti naik dengan sendirinya “, kata Busri. (Muin)