Tampilkan postingan dengan label Wedung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wedung. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 September 2014

Petani Garam Demak Panen Raya Garam, Berharap Harga Tidak Anjlok



Demak – Petani Garam di kecamatan Wedung kabupaten Demak bulan Agustus ini telah panen raya. Seluruh lahan tambak garam di 6 desa yaitu Kendalasem, Tedunan, Kedungkarang, Kedungmutih, Babalan , dan Berahan Wetan sudah menuai hasil. Rata-rata mereka menjual langsung hasil garamnya pada pengepul yang kemudian di pasarkan ke wilayah lain.

“ Untuk panen perdana biasanya para petani garam menjual seluruh hasil garamnya. Selain untuk biaya pengolahan lahan dan membeli peralatan juga harga garam masih bagus “, kata Busri pengepul garam krosok dari desa Kedungmutih pada FORMASS, Rabu (20/8).

Busri mengatakan harga garam saat ini masih lumayan tinggi dibandingkan tahun yang lalu. Selain pasokan garam di pabrik –pabrik kebanyakan sudah menipis . Pembuatan garam pada musim ini juga sulit karena awal-awal sering turun hujan. Sehingga waktu panen raya agak mundur dibandingkan tahun yang lalu.

“ Tetapi untuk bulan Agustus ini semua petani kelihatannya sudah panen garam semua. Garam-garam mereka langsung dijual pada para bakul termasuk saya, Harga garam saat ini berkisar 400 – 500/kg tergantung kualitasnya “, tambah Busri.

Munasikun (55) petani garam dari desa Kedungmutih mengatakan, musim garam tahun ini memang mundur dibandingkan tahun yang lalu. Biasanya bulan Mei atau Juni sudah panen namun pada tahun ini panen raya jatuh di bulan Agustus. Dia termasuk salah satu petani garam yang menangguk hasil garam.



“ Sebelum lebaran saya sudah merasakan hasil garam meskipun belum banyak. Nah pada bulan Agustus ini boleh dikatakan panen raya karena setiap hari saya bisa memungut garam dari lahan ini “, kata Munasikun.

Munasikun mengaku lahan garam yang ia garap bukan miliknya sendiri. Ia menyewa lahan garam pada orang lain . Ia berharap musim garam tahun ini panjang seperti tahun yang lalu sehingga biaya sewa bisa tertutup dan ia dapat keuntungan yang banyak. Selain itu harga garam juga tidak anjlok setelah panen raya.

“ Ya sebagai orang kecil harapan saya ya harga garam jangan anjlok setelah panen raya. Biasanya setelah panen harga garam langsung anjlok . Bahkan kadang-kadang tidak ada bakul yang membeli garam “, tambah Munasikun.

Munasikun berharap pemerintah ikut campur dalam hal pembelian garam dari petani. Ketika harga garam jatuh atau anjlok pemerintah lewat dinas terkait diharapkan bisa mengendalikan harga garam. Pengalaman yang sudah-sudah harga garam selalu anjlok ketika panen raya.

“ Kalau tidak begitu ya bagaimana caranya kami ini bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan harian sedangkan garam kami simpan . Bila harga naik kembali baru kita jual “, harap munasikun. (Muin)

BUTUH GARAM KROSOK DARI DEMAK  
HUBUNGI : HAMZAWI ANWAR - 085727809314

Senin, 23 Juni 2014

Betonisasi Jalan Raya Desa Tedunan Tahun Ini Selesai


Jalan raya desa Tedunan yang belum dibetonisasi

Demak- Jalan desa Tedunan kecamatan Wedung kabupaten Demak sepanjang 1 kilometer yang kini kondisinya masih rusak parah tahun ini akan dibetonisasi. Diharapkan warga yang melewati jalan tersebut tidak akan terganggu baik di musim hujan maupun kemarau. Selain itu akses jalan menuju ke kantor kecamatan tidak akan kesulitan lagi.

Hal itu di katakan Camat Wedung Drs. Syahri dihadapan peserta pelatihan SIBAT dibalai Desa Kedungmutih , Senin (16/6). Dengan akses jalan Tedunan yang sudah bagus tersebut nantinya transportasi ke kantor kecamatan tidak akan terkendala lagi. Apalagi jika musim penghujan tidak aka nada lagi jalan becek atau mathol.

“ Mudah-mudahan dengan betonisasi jalan desa Tedunan itu , Kepala desa atau perangkat tidak kesulitan lagi menuju ke kantor kecamatan Wedung. Dulu sering mereka terlambat dengan alasan jalan rusak , becek atau mathol “, kata Camat Wedung.




Kecamatan Wedung tahun ini menurut Camat Wedung mendapatkan dana untuk pembangunan infrastruktur sebesar 11.9 Milyar . Diantaranya untuk betonisasi jalan desa Tedunan yang akan menyambung ke desa Mutih Kulon. Selain itu juga untuk betonisasi jalan depan kantor kecamatan yang kondisinya juga rusak parah.

“ Selain itu juga merehabilitasi beberapa sarana dan prasarana yang rusak . itu semua ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat. Jalan beton juga dilaksanakan di desa Mutih Wetan nyambung ke desa Jungpasir “, tambah Camat  Wedung.

Sementara itu Adib perangkat desa Kedungmutih merasa senang dengan terselesaikan betonisasi jalan desa Tedunan tahun ini. Sehingga jika dia dan teman-teman konperensi ke kantor kecamatan tidak akan kesulitan lagi. Apalagi jika musim penghujan tiba selain diguyur air jalan rusak mengakibatkan kesulitan melewatinya.


“ Nah dengan jalan yang sudah bagus ini , kita berharap akses menuju desa desa lain juga lancar. Selain itu pengankutan hasil tambak berupa ikan dan garam tidak kesulitan jika musim penghujan”, tambah Adib yang sudah lebih 10 tahun jadi perangkat desa Kedungmutih. (Muin).

Kamis, 29 Mei 2014

Ahmad Muhibbi , Pengepul Kepiting dari Desa Kedungkarang


Ahmad Muhibbi sedang memilah kepiting


Demak -
Desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak saat ini masih menjadi satu-satunya desa pemasok kepiting bakau di daerah Demak dan sekitarnya. Selain banyak pemburu kepiting di desa ini banyak pula warganya yang membuka usaha sebaagai pengepul kepiting bakau yang mengumpulkan hasil kepiting dari para pemburu dan juga pembudidaya kepiting di kolam.
Salah satu pengepul kepiting yang cukup dikenal adalah Ahmad Muhibbi (40) . Di rumahnya setiap hari dia mengumpulkan puluhan hingga ratusan kepiting yang dibelinya dari para pemburu atau bakul di pasar . Setelah terkumpul banyak Kepiting itu selanjutnya dipasarkan ke berbagai tempat sekitar Demak juga sampai luar kota seperti Semarang, Solo dan Yogyakarta. Jenis kepiting bakau yang ia jual terdiri dari kepiting biasa dan kepiting bertelor. Unttuk harga kepiting selalu fluktuasi tergantung dari hasil tangkapan atau pasokan.
istri pak Muhibbi sedang timbang kepiting

“ Jika pasokan dipasar banyak otomatis harga turun sendiri , begitu juga perolehan dari para pemburu kurang harga akan naik sendiri . Namun untuk normalnya perkilo kepiting biasa berkisar Rp 40 ribu – 50 ribu dengan jumlah isi 5/6 kepiting. Untuk Kepiting bertelor harganya bisa dua kali lipat “, ujar Muhibbi pada wartademak sambil memilah-milah kepiting bakau.
Ahmad Muhibbi mengemukakan , usaha jual beli kepiting yang ditekuninya adalah meneruskan usaha orangtuanya dan juga mertuanya , setiap hari dia datang ke pasar untuk mencari dagangan. Selain itu banyak pula pengepul kecil atau pemburu kepiting yang datang langsung menjual hasil kepiting padanya. Istrinya di rumah melayani para penjual dan juga para pembeli yang langsung datang kerumahnya. Para pembeli yang datang biasanya para pelanggan yang memang membutuhkan kepiting dengan kualitas bagus. Jika memilih sendiri di pasar mereka kesulitan.
“ Selain kami setorkan ke pelanggan di kota , banyak pula para pembeli yang datang langsung ke rumah saya . Sehingga di rumah kami juga menyediakan kepiting bakau ini untuk para pelanggan “. Kata Muhibbi.
Dari usahanya jual beli kepiting ini Muhibbi mengakui sudah banyak mendapatkan hasil , selain bisa memperbaiki rumahnya , membiayai anak sekolah, dan juga untuk keperluan belanja sehari-hari. Oleh karena itu sampai sekarang usaha jual beli kepiting itu ditekuni sampai sekarang, bahkan dalam setiap kesempatan ia membuka daerah pemasaran baru agar jumlah penjualan semakin banyak.
Setiap hari di rumahnya ia sibuk mengatur kepiting yang akan disetorkan ke kota , selain memilah-milah menurut besar kecilnya kepiting juga memilihnya yang khusus bertelor. Harga kepiting tergantung dari jumlah perkilonya makin sedikit harga lebih mahal . Sedangkan untuk harga kepiting bertelor memang istimewa dibandingkan yang lain karena selain rasanya yang benar-benar lezat juga banyak diburu orang.
“ Kalau membeli disini kami jamin benar-benar-bertelor , tapi kalau sudah nyampai di kota kadang orang bisa terkecoh dari bentuk dan warna . Dilihat seperti bertelor namun ketika dimasak tak ada isinya “, papar Muhibbi. (Muin)
Profil usaha : Jual Beli Kepiting Bakau
Nama : Ahmad Muhibbi
Alamat : Desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak
No HP : 081325732594

Bambu Masih Tetap di Buru Sebagai Pengganti Kayu


Bambu diturunkan dari truk

Demak – Sejak dahulu bambu dikenal sebagai tanaman yang mempunyai banyak manfaat. Selain digunakan sebagai bahan kerajinan tangan untuk berbagai keperluan. Tanaman jenis rumput-rumputan ini juga dibutuhkan para nelayan dan petani tambak sebagai bahan bangunan sebagai pengganti kayu.

Bambu ini oleh para nelayan dibuat untuk bagan-bagan tancap atau apung dilaut. Bambu itu dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menyanggah jaring untuk menangkap ikan. Satu bagan tancap atau apung membutuhkan bambu puluhan hingga ratusan tergantung dari besarnya bagan tancap atau apung.

Sedangkan para petani tambak membutuhkan bamboo ini sebagai tiang pembuat gubug atau gudang garam. Dengan tiang bambu ini biaya pembuatan gudang lebih murah jika dibandingkan dengan kayu. Oleh karena itu jika musim garam tiba rezeki penjual bamboo cukup berlimpah.

“ Meski kayu lebih awet , namun harga kayu cukup mahal. Petani tambak masih membutuhkan bamboo. Satu gudang garam sedang setidaknya butuh bamboo lebih 50 batang “, ujar Zaedun penjual Bambu di pasar lama desa Kedungmutih.

Zaedun yang membantu usaha ibunya mengatakan , bambu-bambu jualannya itu ia pasok dari daerah Jepara seperti Mayong, Nalumsari , Bate , dan daerah hutan lainnya. Biasanya pembelian bambu dengan cara borongan satu truk dengan ukuran beragam.

Sesampainya di tempat bambu-bambu itu seterusnya dipilah-pilah sesuai dengan ukurannya . Ada ukuran  bambu besar panjang , besar sedang , dan kecil. Harga yang ditawarkan kepada konsumen juga berbeda-beda tergantung dari jenis dan panjangnya. Harga yang ditawarkan berkisar Rp 10 ribu – Rp 100 ribu.

“ Biasanya kalau untuk pembuatan bagan apung membutuhkan bambu dengan ukuran sedang sampai besar harga perbatang bisa sampai 100 ribu. Tetapi jika untuk membuat peralatan oleh garam biasanya bambu ukuran sedang atau kecil “, cukup.

Usaha penjualan bambu ini menurut Zaedun cukup prospektif dengan keuntungan yang lumayan besar. Tinggal pandainya kita menaksir harga borongan pembelian bambu dari pengepul  asal Jepara dan daerah lainnya. Selain itu juga pandai-pandainya kita memilah bambu sesuai dengan jenis dan peruntukkannya.


“ Ya yang namanya usaha ya kadang untuk besar , ya kadang untuk sedikit. Pandai-pandainya kita mengatur keuangan. Yang penting kita bagus melayani pelanggan keuntungan akan datang dengan sendirinya”, kata Zaedun yang membuka usaha hampir 6 tahun. (Muin)


Selasa, 27 Mei 2014

Peternak Kambing Desa Kedungkarang Kekurangan Modal

Kambing pak Mat Lawi baru 2 ekor

Demak – Desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak merupakan desa pesisir . Warganya kebanyakan mengandalkan tambak dan laut sebagai lahan penghidupan mereka. Namun beberapa warga ada yang membuka usaha sampingan dengan beternak kambing.

Di belakang desa tepatnya di bibir sungai SWD 1 tampak gubug-gubung kecil dengan dinding gedheg dan beratap genting. Di kandang itulah mereka memelihara kambingnya. Di bantaran kali itulah ada sekitar 10 kandang kambing yang berjejer rapi.

“ Ya kurang lebih ada setahunan kami memindah kandang dari kampong ke tempat ini. Untuk biaya pembuatan kandang ini tergantung yang kecil 1 juta cukup sedangkan yang besar lebih satu juta “, ujar Mat Lawi warga RT 04 RW 02 pada FORMASS, Selasa (27/5).

Mat Lawi mengatakan ia beternak kambing sudah lama. Pekerjaan pokoknya adalah mencari ikan dilaut. Dulu ia membuat kandang kambing di seputaran rumahnya. Namun seiring dengan waktu kandang kambing di kampong tidak layak lagi.

Kandang kambing milik peternak desa Kedungkarang


Selain menganggu pemandangan bau dari kotoran kambing juga tidak menyehatkan. Oleh karena itu ia bersama teman-temannya sepakat untuk membuat kandang di bantaran sungai. Selain jauh dari kampung kotoran kambing bisa langsung ke sungai.

“ Kalau saya karena keterbatasan modal membuat kandang kecil maksimal untuk kambing 10 ekor. Selain saya itu kandang pak Mutadi , Sonari , pak Atma dan Pak Basir “, kata Mat Lawi sambil menunjukkan kandang kambing di bantaran kali SWD 1.

Kekurangan Modal

Menurut Mat Lawi beternak Kambing sebagai sambilan cukup prospektif dan menguntungkan. Namun karena keterbatasan modal usahanya ini tidak bisa maksimal. Dulu ia mempunyai kambing 5-6 ekor , tetapi setelah terpotong untuk membuat kandang modalnya menipis ia baru bisa membeli kambing 2 ekor saja.

Dua ekor kambing itu ia beli seharga dua juta rupiah . Induk dan anakannya itu ia pelihara di dalam kandang dengan makanan hijauan dari sekitar kandang. Harapannya setengah sampai satu tahun kedepan kambinngnya bertambah karena induknya sudah beranak sedangkan anaknya sudah tumbuh jadi besar.

Pak Mat Lawi di depan Kandang Kambingnya


“ Inginnya sih memelihara kambing banyak paling tidak 10 ekor biar cucuk. Tetapi modal baru segitu ya kita jalankan. Mudah-mudahan ada modal tambahan atau bantuan dari pemerintah jadi kambing saya bisa bertambah”, harap Mat Lawi.

Ketika ditanya masalah bantuan untuk peternak  Mat Lawi dan teman-temannya mengaku belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Mereka berharap ada bantuan atau pinjaman  lunak dari pemerintah agar usaha ternak kambingnya menjadi besar. Selain itu hasilnya bisa untuk menambah kebutuhan keluarga.

“Mbok tolong kami dibantu pak , peternak sini masih membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha ternak disini “, kata Mutadi teman Mat Lawi. (Muin)



Tanggul SWD I di Desa Kedungmutih Wedung Jebol

Tanggul sebelah selatan jebol

Demak – Tanggul sungai SWD I yang melewati desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak kondisinya memprihatinkan. Dibeberapa titik sudah sangat kritis , sedangkan di bagian selatan sungai ada yang jebol sekitar 5 meter panjangnya.

“ Jebolnya tanggul disebelah selatan sudah lebih setahun  tahun. Namun belum ada penanganan dari pemerintah “, kata Suhari petani tambak dari desa Kedungmutih pada WARTA DEMAK , Rabu (28/5)

Jebolnya tanggul sungai SWD I tersebut menurut Suhari akibat dari limpasan air banjir beberapa waktu yang lalu. Ketika terjadi banjir Mijen air dari Timur mengarah ke barat . Semua tambak garam tergenang air beberapa gudang garam ludes diterjang air banjir.

“ Air begitu besar dengan arus yang cukup tinggi . Tanggul sebelah selatan yang terendah jadi jalannya air keluar . Saking besarnya arus tanggul akhirnya jebol “, cerita Suhari yang juga Ketua BPD desa Kedungmutih.

Sedangkan  tanggul SWD I bagian utara di beberapa titik juga mengalami kritis, bahkan ada yang hampir jebol. Rusaknya tanggul tersebut diakibatkan oleh banjir besar di desa Tedunan bulan Januari yang lalu. Saking besarnya air ketika air sungai surut airpun menjebol tanggul di beberapa titik.

Hamdan Kepala Desa Kedungmutih ketika dikonfirmasi masalah tersebut membenarkan. Tanggul sungai SWD 1 kondisinya sudah sangat memprihatinkan . Setelah banjir bulan Februari yang lalu fihaknya telah mengajukan proposal pada pemerintah untuk merehab tanggul yang rusak itu.

Tanggul sebelah Utara  kritis


“ Jelas akibat banjir kemarin tanggul di sungai SWD 1 kerusakannya sangat parah . Sebelah Selatan jebol dan utara kritis . Jika rob pasang air laut dengan mudah masuk kampung dan tambak. Sudah saya ajukan tetapi belum ada respon “, kata Hamdan.

Menurut Hamdan rusaknya tanggul sungai SWD 1 akan berdampak pada kerugian warga masyarakat jika tidak ditangani dengan segera . Selain tanggul ditinggikan dan dirapikan dia juga mengajukan pintu saluran air secara terpadu.

Dengan adanya pintu air terpadu tersebut diharapkan tidak ada lagi tambak atau kampong tergenang air. Jika kondisi air dalam tambak besar air bisa keluar dengan cepat. Sedangkan  jika kondisi air sungai tinggi pintu air tinggal di tutup . Air pasang atau banjir tidak akan memasuki kawasan tambak maupun perkampungan.


“ Mudah-mudahan terealisasi tahun ini sehingga musim penghujan yang akan datang kita tidak was-was lagi seperti bulan Januari yang lalu hamper semua rumah di sini kemasukan air karena rusaknya tanggul SWD 1” , harap Hamdan ( Muin ).


Senin, 26 Mei 2014

Warga Pesisir Wedung Utara Akan Rasakan Air PDAM


Demak – Warga desa di pesisir Wedung Utara mulai dukuh Menco ,desa Babalan, Kedungmutih dan juga Kedungkarang akan rasakan air bersih dari PDAM Demak. Sesuatu yang sejak dulu diharap-harap kini tinggal selangkah lagi. Dua tahun yang lalu pipa besar telah dipasang ,kini pipa-pipa kecil juga telah di tanam.

“ Pipa besar untuk saluran air antar desa. Sedangkan pipa kecil ini merupakan saluran air menuju ke rumah warga “, ujar Dimin (45) kuli borong pasang pipa pada WARTA DEMAK, Senin (26/5).

Dimin mengatakan pemasangan pipa kecil ini mulai dari dukuh Menco , kemudian desa Babalan dan juga desa Kedungkarang. Sedangkan untuk desa Kedungkarang belum saat ini. Namun dalam waktu dekat pipa-pipa kecil juga akan dipasang sampai di desa Kedungkarang.

“ Untuk Menco semua bisa terpasang dengan lancar tanpa masalah. Namun di desa Babalan ada beberapa titik yang bermasalah dengan warga. Jadi belum semua titik tersambung “, tambah Dimin.

Sementara itu pemasangan pipa kecil di desa Kedungmutih , menurut Ahmad Mushonnef salah satu perangkat desa tidak ada masalah yang berarti. Semua warga merelakan depan rumah di gali untuk pemasangan pipa. Bahkan beberapa ruas jalan harus dihancurkan untuk kelancaran pemasangan pipa.

“ Untuk desa kami warga tidak mempermasahkan galian justru mereka senang . Air bersih telah ditunggu-tunggu sejak lama memasuki rumah mereka. Kelihatannya seluruh titik sudah tersambung pipa sampai di kampong relokasi sana “, ujar Ahmad Mushonnef.



Menurut dia , jika kemarau tiba hamper semua warganya membeli air bersih dari Jepara. Selain lewat penjaja air menggunakan sepeda dan sepeda motor. Ada juga warga yang mendatangkan air bersih lewat  mobil tangki dari Kudus dan juga Semarang.

Oleh karena itu dengan adanya sambungan pipa air bersih dari PDAM Demak ini . Warga bisa menghemat uang untuk membeli air. Setiap hari mereka mengeluarkan uang minimal Rp 5 ribu – 6 ribu untuk membeli air bersih. Selain untun kebutuhan minum mereka juga butuh air untuk memasak , mandi dan juga mencuci.

“ Apalagi jika musim kemarau panjang kebutuhan air bersih menjadi hal yang utama karena sumur –sumur tak berair . Yang ada hanya air asin dari sungai Serang.”, tambah Ahmad Mushonnef.
Menurut Mushonnef , sambungan pipa air ini akan mulai dirasakan warga akhir tahun ini. Oleh karena itu dia mengharapkan kepada warga untuk menyiapkan segala sesuatunya. (Muin)




Minggu, 25 Mei 2014

Jalan Raya Bungo – Jetak Perlu “Servis”



Demak – Jalan raya yang menghubungkan desa Bungo dan Jetak kecamatan Wedung kabupaten Demak saat ini butuh “servis” atau perbaikan. Di beberapa titik jalan beton ada kerusakan yang diakibatkan oleh beban , panas dan hujan.  

Pengendara yang lewat harus waspada jika melewatinya. Selain beton yang mengelupas di beberapa titik besi tulang jalan kelihatan menonjol. Hal ini membahayakan bagi ban kendaraan yang melewati setiap harinya.

“ Ya selain diakibatkan oleh panas dan hujan mungkin juga waktunya sudah cukup lama. Tapi jalan Beton memang lebih awet jika dibandingkan jalan aspal “, kata seorang pemakai jalan padaFORMASS.




Dari pantau jalan yang menghubungkan antar desa di kecamatan Wedung ini merupakan jalan alternative ke Jepara via Welahan. Sehingga warga Wedung yang akan ke Jepara via Welahan bisa melewati jalan raya desa Bungo – Jetak ini.

Bagi warga sekitar jalan raya ini merupakan jalan transportasi hasil pertanian . Berupa padi dan palawija karena disamping jalan ini merupakan lahan pertanian yang luas. Jika musim menanam padi terlihat keramaian disepanjang jalan oleh ratusan orang yang terjun ke sawah menanam padi.




Jika musim panen padi jalan raya ini juga kembali ramai dengan ratusan orang yang melakukan panen padi. Selain itu terlihat puluhan kendaraan roda empat yang di parkir untuk mengangkut hasil pertanian berupa padi juga palawiji seperti semangka, melon, brambang dan hasil pertanian  lainnya.

Sebelum rusak lebih parah warga mengharapkan perbaikan jalan beton sepanjang lima kilometer di mulai dari desa Jetak sampai denga desa Bungo selatan. (Muin)