Tampilkan postingan dengan label kedungkarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kedungkarang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Mei 2014

Ahmad Muhibbi , Pengepul Kepiting dari Desa Kedungkarang


Ahmad Muhibbi sedang memilah kepiting


Demak -
Desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak saat ini masih menjadi satu-satunya desa pemasok kepiting bakau di daerah Demak dan sekitarnya. Selain banyak pemburu kepiting di desa ini banyak pula warganya yang membuka usaha sebaagai pengepul kepiting bakau yang mengumpulkan hasil kepiting dari para pemburu dan juga pembudidaya kepiting di kolam.
Salah satu pengepul kepiting yang cukup dikenal adalah Ahmad Muhibbi (40) . Di rumahnya setiap hari dia mengumpulkan puluhan hingga ratusan kepiting yang dibelinya dari para pemburu atau bakul di pasar . Setelah terkumpul banyak Kepiting itu selanjutnya dipasarkan ke berbagai tempat sekitar Demak juga sampai luar kota seperti Semarang, Solo dan Yogyakarta. Jenis kepiting bakau yang ia jual terdiri dari kepiting biasa dan kepiting bertelor. Unttuk harga kepiting selalu fluktuasi tergantung dari hasil tangkapan atau pasokan.
istri pak Muhibbi sedang timbang kepiting

“ Jika pasokan dipasar banyak otomatis harga turun sendiri , begitu juga perolehan dari para pemburu kurang harga akan naik sendiri . Namun untuk normalnya perkilo kepiting biasa berkisar Rp 40 ribu – 50 ribu dengan jumlah isi 5/6 kepiting. Untuk Kepiting bertelor harganya bisa dua kali lipat “, ujar Muhibbi pada wartademak sambil memilah-milah kepiting bakau.
Ahmad Muhibbi mengemukakan , usaha jual beli kepiting yang ditekuninya adalah meneruskan usaha orangtuanya dan juga mertuanya , setiap hari dia datang ke pasar untuk mencari dagangan. Selain itu banyak pula pengepul kecil atau pemburu kepiting yang datang langsung menjual hasil kepiting padanya. Istrinya di rumah melayani para penjual dan juga para pembeli yang langsung datang kerumahnya. Para pembeli yang datang biasanya para pelanggan yang memang membutuhkan kepiting dengan kualitas bagus. Jika memilih sendiri di pasar mereka kesulitan.
“ Selain kami setorkan ke pelanggan di kota , banyak pula para pembeli yang datang langsung ke rumah saya . Sehingga di rumah kami juga menyediakan kepiting bakau ini untuk para pelanggan “. Kata Muhibbi.
Dari usahanya jual beli kepiting ini Muhibbi mengakui sudah banyak mendapatkan hasil , selain bisa memperbaiki rumahnya , membiayai anak sekolah, dan juga untuk keperluan belanja sehari-hari. Oleh karena itu sampai sekarang usaha jual beli kepiting itu ditekuni sampai sekarang, bahkan dalam setiap kesempatan ia membuka daerah pemasaran baru agar jumlah penjualan semakin banyak.
Setiap hari di rumahnya ia sibuk mengatur kepiting yang akan disetorkan ke kota , selain memilah-milah menurut besar kecilnya kepiting juga memilihnya yang khusus bertelor. Harga kepiting tergantung dari jumlah perkilonya makin sedikit harga lebih mahal . Sedangkan untuk harga kepiting bertelor memang istimewa dibandingkan yang lain karena selain rasanya yang benar-benar lezat juga banyak diburu orang.
“ Kalau membeli disini kami jamin benar-benar-bertelor , tapi kalau sudah nyampai di kota kadang orang bisa terkecoh dari bentuk dan warna . Dilihat seperti bertelor namun ketika dimasak tak ada isinya “, papar Muhibbi. (Muin)
Profil usaha : Jual Beli Kepiting Bakau
Nama : Ahmad Muhibbi
Alamat : Desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak
No HP : 081325732594

Selasa, 27 Mei 2014

Peternak Kambing Desa Kedungkarang Kekurangan Modal

Kambing pak Mat Lawi baru 2 ekor

Demak – Desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak merupakan desa pesisir . Warganya kebanyakan mengandalkan tambak dan laut sebagai lahan penghidupan mereka. Namun beberapa warga ada yang membuka usaha sampingan dengan beternak kambing.

Di belakang desa tepatnya di bibir sungai SWD 1 tampak gubug-gubung kecil dengan dinding gedheg dan beratap genting. Di kandang itulah mereka memelihara kambingnya. Di bantaran kali itulah ada sekitar 10 kandang kambing yang berjejer rapi.

“ Ya kurang lebih ada setahunan kami memindah kandang dari kampong ke tempat ini. Untuk biaya pembuatan kandang ini tergantung yang kecil 1 juta cukup sedangkan yang besar lebih satu juta “, ujar Mat Lawi warga RT 04 RW 02 pada FORMASS, Selasa (27/5).

Mat Lawi mengatakan ia beternak kambing sudah lama. Pekerjaan pokoknya adalah mencari ikan dilaut. Dulu ia membuat kandang kambing di seputaran rumahnya. Namun seiring dengan waktu kandang kambing di kampong tidak layak lagi.

Kandang kambing milik peternak desa Kedungkarang


Selain menganggu pemandangan bau dari kotoran kambing juga tidak menyehatkan. Oleh karena itu ia bersama teman-temannya sepakat untuk membuat kandang di bantaran sungai. Selain jauh dari kampung kotoran kambing bisa langsung ke sungai.

“ Kalau saya karena keterbatasan modal membuat kandang kecil maksimal untuk kambing 10 ekor. Selain saya itu kandang pak Mutadi , Sonari , pak Atma dan Pak Basir “, kata Mat Lawi sambil menunjukkan kandang kambing di bantaran kali SWD 1.

Kekurangan Modal

Menurut Mat Lawi beternak Kambing sebagai sambilan cukup prospektif dan menguntungkan. Namun karena keterbatasan modal usahanya ini tidak bisa maksimal. Dulu ia mempunyai kambing 5-6 ekor , tetapi setelah terpotong untuk membuat kandang modalnya menipis ia baru bisa membeli kambing 2 ekor saja.

Dua ekor kambing itu ia beli seharga dua juta rupiah . Induk dan anakannya itu ia pelihara di dalam kandang dengan makanan hijauan dari sekitar kandang. Harapannya setengah sampai satu tahun kedepan kambinngnya bertambah karena induknya sudah beranak sedangkan anaknya sudah tumbuh jadi besar.

Pak Mat Lawi di depan Kandang Kambingnya


“ Inginnya sih memelihara kambing banyak paling tidak 10 ekor biar cucuk. Tetapi modal baru segitu ya kita jalankan. Mudah-mudahan ada modal tambahan atau bantuan dari pemerintah jadi kambing saya bisa bertambah”, harap Mat Lawi.

Ketika ditanya masalah bantuan untuk peternak  Mat Lawi dan teman-temannya mengaku belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Mereka berharap ada bantuan atau pinjaman  lunak dari pemerintah agar usaha ternak kambingnya menjadi besar. Selain itu hasilnya bisa untuk menambah kebutuhan keluarga.

“Mbok tolong kami dibantu pak , peternak sini masih membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha ternak disini “, kata Mutadi teman Mat Lawi. (Muin)



Minggu, 25 Mei 2014

Pabrik Garam Iodium Kedungkarang Akhir 2014 Dioperasikan



Demak – Desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak akhir tahun 2014 ini berdiri pabrik Garam beriodium. Saat ini bangunan tempat pengolahan garam ini sudah berdiri dan beberapa mesin pengolahnya juga sudah disiapkan. Bak-bak pencucian garam juga sudah selesai dibuat.

“ Untuk tanah serta bangunan semua asset dari kelompok , sedangkan beberapa mesin pengolah ini bantuan dari pemerintah lewat Dinas Kelautan Demak “, kata Muhdi Kepala desa Kedungkarang kecamatan Wedung pada FORMASS, Sabtu (24/5)

Muhdi mengatakan Pabrik Garam iodium pengelolaannya lewat Kelompok Usaha Bersama (KUB) “Sido Maju”. Anggota kelompok tersebut adalah para petani garam. Diharapkan dengan pengolahan menjadi garam konsumsi beriodium ini hasil garam dari desa Kedungkarang lebih meningkat lagi.



“ Biasanya para petani garam sini menjual hasil garam mereka berbentuk garam krosok non beriodium. Tetapi setelah ada pabrik ini kita mengharapkan ada produk baru dari desa Kedungkarang”, terang Muhdi.

Selama ini petani garam dari desa Kedungkarang merupakan pemasok garam krosok daerah Juwana Rembang, Solo dan juga Lampung. Garam krosok ini dibawa para pengepul untuk mensuplai pabrik garam iodium di Pati dan Rembang. Garam krosok tersebut setelah men jadi garam konsumsi dipasarkan kembali ke daerah Demak , Kudus ,Jepara dan Semarang.

“ Jadi setelah ada pabrik garam beriodium ini kita tidak perlu mendatangkan garam iodium dari sana. Bahkan kita nanti bisa memasarkan garam iodium ini di daerah Demak atau ke luar daerah “, tambah Muhdi.




Dalam pembuatan pabrik garam iodium ini kelompok telah menghabiskan dana lebih seratus juta rupiah. Diantaranya untuk penyediaaan tanah , bangunan dan beberapa peralatan tambahan lainnya. Peralatan bantuan dari pemerintah belum lengkap semua.

Diantara kekurangan peralatan untuk pengolahan garam iodium ini antara lain. Mesin penggilingan garam , mesin cuci dan oven. Setidaknya ia masih harus mengeluarkan uang dari kantongnya sekitar 50 juta lagi. Namun ia optimis bisa terpenuhi semua sehingga akhir tahun ini pabrik garam iodium di desa bisa beroperasi.

“ Ya kalau tidak ada halangan pada musim garam tahun ini kita sudah bisa mengolah garam krosok menjadi garam beriodium.  Mudah-mudahan semua lancar”, harap Muhdi.

Desa Kedungkarang merupakan salah satu desa sentra garam krosok di kecamatan Wedung . Diharapkan dengan berdirinya pabrik garam ini bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi. Perekonomian di desa pesisir ini diharapkan lebih maju lagi. (Muin).


Nelayan Kedungkarang Operasikan “Dogol” Penangkap Teri


Nelayan desa Kedungkarang berangkat melaut

Demak – Nelayan desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak dulu hanya dikenal sebagai penangkap ikan ,udang dan Kepiting. Namun saat ini sudah mulai mengoperasikan alat tangkap jenis dogol. Dogol adalah sejenis jarring yang special untuk menangkap ikan teri.

Dulu yang dikenal sebagai jagonya penangkap ikan teri adalah nelayan dari desa Panggung dan Surodadi kecamatan Kedung kabupaten Jepara. Namun seiring dengan kebutuhan dan juga prospek yang bagus maka nelayan desa Kedungkarang juga mengoperasikan alat tangkap jenis dogol ini.

“ Ya gimana lagi , nelayan harus tanggap dengan suasana jika laut sedang ramai ikan teri ya dimanfaatkan untuk menangkap jenis ikan ini. Harganyapun lumayan alat tangkapnyapun mudah mencarinya “, ujar Masrukan Nelayan dari desa Kedungkarang pada FORMASS, Minggu (25/5).

Masrukan mengatakan alat tangkap jenis dogol ini pengoperasiannya sama dengan alat tangkap jarring atau arad. Namun dari segi tenaga alat dogol ini membutuhkan tenaga yang lebih banyak. Untuk jarring atau arad hanya membutuhkan maksimal tenaga nelayan 2 orang.

es batu perbekalan nelayan kedungkarang

“ Nah untuk alat tangkap jenis dogol ini satu perahu rata-rata membutuhkan tenaga nelayan minimal 8 orang. Sedangkan perahunya juga harus lebih besar “, tambah Masrukan.

Menurut Masrukan nelayan desa Kedungkarang mulai mengoperasikan alat tangkap teri jenis dogol ini sudah setahun yang lalu. Awalnya hanya beberapa perahu saja . Namun saat ini ada sepuluh perahu lebih yang mengoperasikan alat tangkap teri ini.

Sebelum berangkat nelayan yang hendak melaut harus mempersiapakan bekal untuk dirinya. Bekal  operasional penangkapan  seperti bahan bakar juga es batu dipersiapkan untuk pengawetan ikan teri. Alat tangkappun dipersiapkan sebaik-baiknya.

“ Ya kalau sedang ramai satu perahu bisa dapat borongan Rp 2 – 3 Juta. Namun jika suasana laut sedang sepi ya Rp 1 juta dapat “, aku Masrukan.

Tidak setiap nelayan mempunyai perahu sendiri. Maka si pemilik perahu merupakan juragan dari nelayan yang lainnya. Oleh karena itu pembagian pendapatan dilakukan secara adil merata. Si pemilik perahu yang ikut dalam penangkapan mendapat bagian tersendiri sedangkan perahu mendapatkan 2 bagian.

“ Ya inginnya sih punya perahu sendiri namun karena kondisi ya terpaksa ikut njurag . Lumayan sehari jika ramai bisa mendapatkan Rp 200 ribu –Rp 300 ribu. Jika kondisi sepi ya Rp 100 ribu dapat “, kata Wandi teman Masrukan yang ikut berangkat melaut. (Muin)

Rabu, 26 Maret 2014

Kepiting Kedungkarang Terkenal Sejak Dulu

Dulu, warga Desa Kedungkarang, Wedung, Demak, Jawa Tengah ini, dikenal sebagai gudangnya pemburu kepiting bakau. Hampir separoh lebih warga desa ini mengandalkan hidupnya dari berburu kepiting tambak atau kepiting bakau, yaitu kepiting yang hidup di pertambakan, tepian pantai dan rawa-rawa. Namun seiring dengan makin sempitnya lahan berburu dan adanya larangan menangkap kepiting di pertambakan oleh pemiliknya, jumlah pemburu kepiting semakin berkurang.

Selain beralih pekerjaan, pemburu kepiting liar ini pada yang keluar Jawa untuk mencari daerah buruan baru di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Namun demikian, desa ini saat masih dikenal sebagai desa pemasok kepiting bakau di kawasan Demak dan sekitarnya. Apalagi beberapa warga kini ada yang membudidayakan kepiting bakau di lahan tambak.

“Selain untuk penggemukan kepiting, lahan ini juga untuk memelihara kepiting tak bertelur dijadikan kepiting bertelur. Dengan cara seperti ini penghasilan warga jadi bertambah. Penggemukan kepiting ini prinsip kerjanya hanyalah untuk menggemukkan kepiting, yang dibelinya dalam kondisi kecil atau kosong akuas tidak bertelur, kemudian dipelihara menjadi besar, gemuk dan bertelur “ujar Muhdi (45) Kepala Desa Kedungkarang kepada demakpos.

3Kepiting bakau Desa Kedungkarang siap kirim. (Foto: Muin)

Muhdi mengemukakan, sampai saat ini ada sekitar 200 orang warganya yang masih menekuni ‘profesi’ pemburu kepiting. Sekitar 75 orang yang menangkap kepiting di pesisir Wedung, dan selebihnya memburu kepiting di luar Jawa, dan sebagian lainnya mereka dibawa para bos pengepul kepiting dan melakukan perburuan kepiting di sana.

Hasil perolehan mereka di tampung oleh para bos yang kemudian mereka pasarkan ke seluruh Indonesia. Uang hasil kerja dengan para bos tersebut dikirimkan ke rumah masing-masing, dan atau sesekali mereka pulang membawa hasil pemburuan kepiting bakau mereka di luar Jawa tersebut.

“Untuk wilayah Kcamatan Wedung dan sekitarnya, desa kami bisa dikatakan pemasok kepiting bakau nomor satu. Siapapun yang ingin membeli kepiting bakau, bisa mendatangi para pengepul di desa kami“, tambah Muhdi.
  
Hasil perburuan kepiting bakau dari Desa Kedungkarang ini, selain dijual di terdekat seperti di Kedungmutih, Jepara, Pecangaan, Demak dan Kudus, juga dibawa ke kota besar Semarang, Solo, dan Jakarta. (Muin)



Sabtu, 22 Maret 2014

Inilah Kepiting Dari Kedungkarang, Memang Lezat

Dulu, warga Desa Kedungkarang, Wedung, Demak, Jawa Tengah ini, dikenal sebagai gudangnya pemburu kepiting bakau. Hampir separoh lebih warga desa ini mengandalkan hidupnya dari berburu kepiting tambak atau kepiting bakau, yaitu kepiting yang hidup di pertambakan, tepian pantai dan rawa-rawa. Namun seiring dengan makin sempitnya lahan berburu dan adanya larangan menangkap kepiting di pertambakan oleh pemiliknya, jumlah pemburu kepiting semakin berkurang.

Selain beralih pekerjaan, pemburu kepiting liar ini pada yang keluar Jawa untuk mencari daerah buruan baru di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Namun demikian, desa ini saat masih dikenal sebagai desa pemasok kepiting bakau di kawasan Demak dan sekitarnya. Apalagi beberapa warga kini ada yang membudidayakan kepiting bakau di lahan tambak.

“Selain untuk penggemukan kepiting, lahan ini juga untuk memelihara kepiting tak bertelur dijadikan kepiting bertelur. Dengan cara seperti ini penghasilan warga jadi bertambah. Penggemukan kepiting ini prinsip kerjanya hanyalah untuk menggemukkan kepiting, yang dibelinya dalam kondisi kecil atau kosong akuas tidak bertelur, kemudian dipelihara menjadi besar, gemuk dan bertelur “ujar Muhdi (45) Kepala Desa Kedungkarang kepada demakpos.


3Kepiting bakau Desa Kedungkarang siap kirim. (Foto: Muin)

Muhdi mengemukakan, sampai saat ini ada sekitar 200 orang warganya yang masih menekuni ‘profesi’ pemburu kepiting. Sekitar 75 orang yang menangkap kepiting di pesisir Wedung, dan selebihnya memburu kepiting di luar Jawa, dan sebagian lainnya mereka dibawa para bos pengepul kepiting dan melakukan perburuan kepiting di sana.

Hasil perolehan mereka di tampung oleh para bos yang kemudian mereka pasarkan ke seluruh Indonesia. Uang hasil kerja dengan para bos tersebut dikirimkan ke rumah masing-masing, dan atau sesekali mereka pulang membawa hasil pemburuan kepiting bakau mereka di luar Jawa tersebut.

“Untuk wilayah Kcamatan Wedung dan sekitarnya, desa kami bisa dikatakan pemasok kepiting bakau nomor satu. Siapapun yang ingin membeli kepiting bakau, bisa mendatangi para pengepul di desa kami“, tambah Muhdi.
  
Hasil perburuan kepiting bakau dari Desa Kedungkarang ini, selain dijual di terdekat seperti di Kedungmutih, Jepara, Pecangaan, Demak dan Kudus, juga dibawa ke kota besar Semarang, Solo, dan Jakarta. (Muin)