Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 September 2014

Rawat Inap Di RSUP Kariadi Turun Kelas



Semarang - Rumah Sakit Umum Pusat Kariadi Semarang saat merupakan rumah sakit rujukan Jawa Tengah atau mungkin lebih luas lagi. Selain pasien dari daerah-daerah di Jawa Tengah ada beberapa pasien yang mengaku datang dari luar pulau Jawa seperti Kalimantan dan Sumatera. Oleh karena itu suasana IGD  cukup padat dan penempatan pasien ke ruang perawatan butuh waktu yang cukup panjang.

“ Saya sudah nunggu di IGD ini hampir tiga hari ini , namun sampai saat ini ayah saya belum mendapatkan kamar perawatan . Ya masih harus sabar disini “, ujar salah seorang penunggu yang mengaku berasal dari Pangkalan Bun Kalimantan.

Selain lamanya masuk ke ruang perawatan ada hal yang dikeluhkan oleh beberapa pasien rujukan dari rumah sakit daerah. Banyak dari mereka turun kelas pada kamar perawatan. Hak mereka sebenarnya Kelas 1 sesuai dengan pembayaran premi bulanan . Namun karena alasan ruang kelas 1 yang penuh akhirnya mereka turun kelas 2 bahkan banyak pula yang masuk kelas 3.

“ Habis bagimana mas ayah saya mestinya di rawat di kelas 1 sesuai dengan kartu Askes yang di bawa. Namun informasi yang didapatkan dari perawat di IGD yang kosong hanya ruang kelas 3 ya terpaksa saja saya tandatangani persetujuan itu “, kata salah seorang penunggu pasien yang mengaku berasal dari Demak.



Penunggu pasien lain yang mengaku berasal dari Purwodadi mengatakan, bapaknya adalah pemegang kartu BPJS dengan layanan Kelas 1. Namun ketika masuk di IGD dan melakukan pendaftaran ruang perawatan di kelas 1 penuh. Oleh perawat di IGD ditawarkan kamar perawatan yang kosong hanya kelas 3.

“ Ya gimana lagi daripada nunggu terlalu lama di IGD , kelas 3 tetap kita ambil daripada dipakai orang lain. Soalnya pasien di IGD yang nunggu kamar perawatan juga terus bertambah “, tambahnya.

Memang turun kelas perawatan di RSUP Kariadi Semarang bukan info baru lagi. Hampir setiap hari terjadi kejadian serupa namun kebanyakan memilih untuk turun kelas . Harapannya setelah mendapatkan kamar si pasien bisa langsung mendapatkan tindakan atau perawatan dari dokter atau tenaga medis.

Namun demikian sebuah sumber mengatakan agar informasi yang didapatkan valid. Maka sebelum menandatangani perjanjian penempatan kamar perawatan keluarga pasien mengecek ke lapangan . Apakah kamar yang diinginkan benar-benar telah penuh dengan pasien rawat inap. Jika benar telah penuh barulah menyetujui penurunan kelas perawatan.


“ Jangan-jangan di kelas itu masih ada kamar kosong , namun sudah diboking orang-orang atau lewat jalur lain sehingga kesannya penuh terus “, tambah sumber yang tidak mau disebut namanya.***


Jumat, 21 Maret 2014

Hamdan Kades Kedungmutih : Kartu BPJS Kesehatan Memang Pas


Kades Hamdan tunjukkan kartu BPJS

Demak - Hamdan Kepala desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak memang peduli akan kesehatan keluarganya. Sehingga ketika diluncurkannya program BPJS ( Badan penyelenggaran Jaminan Sosial ) Kesehatan iapun mengurus sehingga mempunyai kartu. Awalnya ia tidak menghiraukan kegunaan kartu tersebut.

Namun saat ini kartu tersebut telah dirasakan manfaatnya setelah dia mondok di rumah sakit Graha Husada Jepara. Pihak rumah sakit justru menanyakan apakah dia sudah ikut program jaminan social kesehatan. Akhirnya iapun menunjukkan kartu BPJS sehingga nantinya pembayaran biaya perawatan akan ditanggung oleh BPJS.

“ Saya mendaftarkan keluarga ke kantor BPJS pertengahan bulan Pebruari yang lalu. Tidak dinyana-nyana saat ini saya masuk rumah sakit . Akhirnya kartu BPJS ini bisa dimanfaatkan untuk opname “ , kata Hamdan pada demakpos, Rabu (12/3).

Hamdan mengatakan warganya yang mengurus atau mendaftarkan dirinya sebagai peserta JKS secara mandiri masih dihitung dengan jari. Padahal biaya kesehatan saat ini cukup tinggi. Hal itu baru dirasakan ketika masuk rumah sakit .

Oleh karena itu dia mengharapkan warganya yang tidak tercover oleh JKS gratis . Secepatnya mendaftarkan dirinya ke kantor BPJS kesehatan kabupaten. Tinggal pilih iurannya tergantung kelas di rumah sakit yang dipilihnya.

“ Lewat media ini saya menghimbau kepada warga kami agar secepatnya mengurus kartu BPJS. Dengan kartu ini kita mempunyai jaminan kesehatan. Sehingga sewaktu-waktu sakit kita tinggal masuk ke puskesmas atau rumah sakit”, tambah Hamdan.

Menurut Hamdan warganya yang tidak tercover oleh JKS gratis jumlahnya separoh kurang sedikit. Oleh karena itu masih banyak juga yang harus mendaftarkan  diri secara mandiri. Beberapa warganya saat ini sudah ada yang mengurus kartu BPJS secara mandiri.


“ Terutama yang mempunyai penyakit dan harus control setiap waktu  saya sarankan untuk segera ke kantor BPJS toh persyaratan pendaftarannya cukup mudah dan cepat “, kata Hamdan menutup sua. (Muin)

RS “Kumala Siwi” Kudus Adakan Pengobatan Gratis Di Kedungmutih




 

warga antri berobat

Demak – Rumah Sakit  “Kumala Siwi” Kudus hari ini Kamis (13/3) mengadakan pengobatan gratis bagi warga desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak. Pengobatan yang dipusatkan di Balai Desa ini rencananya akan mengobati warga sekitar 400 orang. Warga yang berobat cukup antusias sehingga membentuk antrian yang cukup panjang.

“ Ya dibuka tadi sekitar pukul 9 pagi setelah diumumkan warga terus berduyun-duyun datang ke Balai desa ini . Warga yang datang terus kami daftar satu persatu “, ujar Ahmad Adib (45) perangkat desa Kedungmutih padaFORMASS.

Ahmad Adib mengatakan, pasca banjir bulan Januari yang lalu warga desa Kedungmutih yang dirawat di RS “ Kumala Siwi “ cukup banyak. Menurut data lebih 100 warga baik yang opname maupun rawat jalan. Oleh karena itu agar berkelanjutan maka fihak RS mengadakan pengobatan gratis untuk warga desa Kedungmutih.

Dokter memeriksa warga


Sebelum kedatangan rombongan dari RS “Kumala Siwi “ Kudus hari ini . Pengobatan gratis juga datang dari Puskesmas 2 Wedung dan juga Pengurus Muhammadiyah Demak. Pada pengobatan yang terdahulu warga yang berobat cukup banyak.

“ Kalau dihitung warga yang berobat sebelum ini juga mencapai 400 orang. Dari pagi sampai sore hari. Namun hari ini pendaftaran dibatasi sampai jam 12 siang “, tambah Adib.




Hamdan (56) Kepala Desa Kedungmutih yang ditemui secara terpisah menyatakan terima kasih kepada manajemen RS “ Kumala Siwi” Kudus. Ucapan beribu terima kasih itu terlontar karena warga desa Kedungmutih pasca banjir mendapatkan perawatan yang bagus di rumah sakit tersebut.

Oleh karena itu ketika hari ini mengadakan pengobatan gratis , fihak pemerintahan desa Kedungmutih mengucapkan terima kasih untuk yang kedua kalinya. Selain itu juga minta maaf kepada managemen RS Kumala Siwi.

“ Ya kami tidak bisa membalas apa-apa hanya permintaan maaf dan terima kasih yang kami sampaikan mewakili pemerintahan desa Kedungmutih”, kata Hamdan. (Muin)