Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juni 2014

Tradisi Baratan Masih Dilestarikan dengan Pawai Mobil-Mobilan



Demak - Ada tradisi yang unik bagi masyarakat pesisir khususnya Demak dan Jepara yang berkaitan dengan datangnya malam Nisfu Sya’ban ( tanggal 15 bulan Sya’ban Ruwah: Bhs. Jawa) selain memperingatinya dengan bacaan surat Yasin sehabis shalat Maghrib diteruskan dengan do’a di Masjid, Musholla atau rumah-rumah warga.

Tak ketinggalan juga masih ada tradisi memasang lampu lampion beraneka bentuk. Lampion  ini dulunya hanyalah lilin yang dibuatkan wadah dari kertas minyak berwarna warni yang digantung didepan pintu. Namun seiring perkembangan jaman lampion ini berubah menjadi berbagai bentuk ada  mobil-mobilan , kapal-kapalan , binatang dan masih banyak lagi yang lainnya.

Malam  Nisyfu Sya’ban ini bagi pengrajin lampion, mobil-mobilan , kapal-kapalan atau bentuk yang lain merupakan event untuk menangguk keuntungan setiap tahun sekali. Mereka membuat mobil-mobilan itu jauh hari sebelum bulan Sya’ban tiba , dan menjualnya ketika peringatan itu kurang dua minggu dengan cara memamerkannya dipinggir-pinggir jalan , atau juga ke pasar-pasar dipelosok desa.

” Satu buah mobil-mobilan ini kami jual kepada pengepul Rp 10.000,- setiap buahnya , dan oleh para bakul mobil-mobilan ini dijual Rp 15.000,- , untungnya ya lumayan . Warga desa kami setiap tahun pasti membuat kerajinan mobil-mobilan ini ” , ujar salah ibu Iliyah yang menjual mobil-mobilan yang ditemui di pasar Baru desa Kedungmutih.   

Memang mobil-mobilan , lampion menjadi ciri khas dari peringatan Nisfu Sya’ban ini , sehingga jika waktunya telah tiba para orangtua selain menyiapkan uba rampe untuk peringatan ini yaitu membuat selamatan di Masjid atau Musolla tidak lupa pula membelikan lampion atau mobil-mobilan untuk putra-putri mereka yang masih kanak-kanak.
Jika bedhug maghrib tiba sehabis sholat para orang tua secara berjamaah atau di rumah membaca surat Ya-sin sebanyak 3 kali beserta do’anya , sedangkan anak-anak pawai mobil-mobilan dan lampion mengitari sebagian desa secara bersama-sama.

Sesudah meraka lelah berkeliling mobil-mobilan dan lampion selanjutnya diparkir di depan pintu rumah dengan lampu warna warni yang masih menyala sampai pagi hari tiba. Sehingga jika peringatan Nisyfu sa’ban tiba dari kejauhan akan kelihatan lampu yang berwarna warni yang dipasang di setiap depan rumah warga.(Muin)

Malam Nisyfu Sya’ban “Melekan “ isi Kegiatan Ibadah


KH. Ma'ruf

Demak – Malam Nisfu Sya’ban yang jatuh pada malam nanti sebisanya di manfaatkan sebaik-baiknya. Selain membaca surat yasin 3 kali usai shalat maghrib dilanjutkan do’a untuk keselamatan bersama. Juga bisa dilanjutkan dengan selamatan atau sedekah dengan pembacaan tahlil atau barjanji.

“ Ya sebisanya malam nisfu sya’ban itu diisi dengan kegiatan ibadah , misalnya shalat malam , dzikir atau baca alqur’an “, kata Romo KH. Ma’ruf ulama sepuh desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak yang ditemui FORMASS pagi ini , Kamis (12/6)

KH. Ma’ruf mengatakan , sejak dahulu sampai sekarang tradisi memakmurkan malam Nisyfu Sya’ban sudah ada. Oleh karena itu dia mengharapkan kita bisa memanfaatkan malam itu sebaik-baiknya. Selain beribadah seperti biasanya dianjurkan tidak tidur semalam dalam rangka melekan dengan beribadah kepada Allah SWT.

Sedangkan tradisi memasang lampion atau lampu berwarna-warni . Sejak dahulu memang sudah ada . Filosofinya adalah kita dalam malam nisfu sya’ban itu diharapkan terjaga terus dan tidak tidur. Seperti halnya lampu warna-warni yang dipasang disetiap rumah.

Namun demikian dia mengatakan essensi dari peringatan Nisfu sya’ban saat ini sudah berubah. Mestinya lampu berwarna-warni yang menyala itu sebagai symbol agar kita melekan atau tidak tidur dalam rangka beribadah kepada Allah.

“ Tetapi yang terjadi sekarang justru lampu warna warni yang dibuat beraneka rupa . Namun setelah keramaian itu kemudian tidur sehingga mengurangi makna dari Nisfu Sya’ban “, tambahnya.


Oleh karena itu Kiai sepuh ini mengajak kepada seluruh umat Islam agar mengisi malam Nisfu sya’ban dengan kegiatan beribadah. Itu semua sebagai wujud kita bertaqwa kepada Allah SWT. (Muin)


Remaja Masjid Jami’ Baitul Makmur Kedungmutih Gelar Pawai Lampion




Demak – Dalam rangka memeriahkan malam nisyfu Sya’ban tahun 1435 H remaja masjid jami’ menggelar kegiatan pawai lampion. Acara yang digelar untuk kali pertama itu diikuti sekitar 100 peserta terdiri anak-anak usia TK, SD dan MTs.Acara pawai digelar usai shalat Isya “ yang sebelumnya juga diselenggarakan  acara baca surat yasin berjamaah , dan juga selamatan.

“ karena baru pertama kali dilaksanakan ya tidak begitu meriah , semua serba dadakan namun saya gembira karena antusias anak-anak cukup besar. Mareka menyajikan lampion berbagai macam rupa “, tutur Bang Slamet  Ketua panitia gebyar Nisfu Sya’ban Remaja Masjid Baitul Makmur pada Formass, Kamis (12/6)

Slamet mengatakan acara gelar pawai lampion untuk memeriahkan malam Nisfu sya’ban merupakan acara dadakan. Awalnya pengurus masjid mengadakan rapat dalam rangka menyambut bulan Sya’ban dan Ramadhan. Dalam acara itu di bahas tentang malam Nisfu Sya’ban yang diisi acara rutin baca surat Yasin dan juga Selamatan.

Agar lebih meriah dan mengenalkan pada anak-anak pada malam yang sacral itu. Iapu  mengusulkan untuk menambah acara dengan pawai lampion. Lampion merupakan lampu tradisi yang dipasang di rumah-rumah warga dalam rangka menyambut malam Nisfu Sya’ban .



“ Nah sayapun usul diadakan pawai lampion yang diawali di halaman masjid berkeliling desa lalu berakhir di halaman masjid lagi. Usul saya direspon alhasil sayapun mempersiapkan doorprize untuk peserta pawai agar bersemangat “, tambah Slamet.

Menurut Slamet jumlah peserta cukup banyak ada 100 anak. Mereka membawa  lampion berbagai bentuk . Ada yang berbentuk mobil-mobilan, Kereta Api , kapal , dan juga berbagai jenis hewan. Lampion itu diberangkatkan dari halaman masjid usai shalat isyak.

Sebelum diberangkatkan para peserta mengambil nomor . Nomor tersebut nantinya akan diundi dan disediakan door prize berbagai macam hadiah. Dari buku tulis, peralatan sekolah, topi, tas, makanan minuman dan mainan anak-anak.

“ Untuk hadiahnya kami carikan donatur dan juga dari kantong saya sendiri . Mudah-mudahan tahun depan lebih meriah lagi “, harap Slamet.

Suhari, S Pd I Nadzir masjid Jami’ Baitul Makmur menyambut positif atas usulan Slamet bagian remaja masjid. Dengan adanya acara itu maka remaja masjid mempunyai agenda rutin dalam rangka pengembangan dan juga ukhuwah Islamiyah. Selain itu juga dalam rangka memakmurkan masjid.


“ Kami harap selain acara nisfu Sya’ban ini masih ada acara lain utamanya dalam rangka memperingati hari besar Islam lainnya. Harapan kami masjid ini bertambah makmur dengan kegiatan yang melibatkan para remaja”, kata Suhari. (Muin)


Minggu, 06 April 2014

Tradisi Udik-Udikan Sambut Datangnya Bayi

Bayi diarak keliling kampung
  
Demak – Di kawasan pantura Jawa Tengah khususnya di daerah kabupaten Demak. Ada tradisi yang masih dilestarikan berkaitan dengan lahirnya seorang bayi. Tradisi ini sudah ada sejak dulu puluhan atau ratusan tahun . Namun beberapa orang masih melestarikannya sampai sekarang.

Tradisi ini berawal dari adanya wanita yang hamil. Keluarganya entah suami atau kakek dan neneknya berharap bayi yang dilahirkan misalnya laki-laki. Jika nanti kelak benar lahir bayi yang diinginkan maka mereka akan melaksanakan nadzar tersebut. Yaitu dengan melakukan udik-udikan.

Udik-udikan adalah adalah melakukan shodaqoh berupa uang recehan yang dilakukan dengan dibuang. Biasanya uang recehan itu dicampur dengan beras kuning dan kembang. Dulu uang yang diberikan recehan Rp 2, 3, 5 . Kini yang dibuang recehan Rp 100 ,500 dan 100.


anak-anak rebutan uang receh


“ Ya gimana lagi  udah tradisi ya kita laksanakan saja. Lha wong keinginan saya sudah terpenuhi cucu laki-laki saya sudah lahir. Dulu ketika masih hamil saya sudah ujar “, kata Mukholifah warga desa Kedungmutih pada demakpos, Rabu (2/4).

Mukholifah melakukan udik-udikan untuk cucunya yang kedua. Diawali dari rumah dengan menggendong cucunya ia keluar rumah. Mendampingi dirinya adalah dukun bayi yang merawat anak dan cucunya. Dukun bayi dengan membawa baki berisi uang dan uborampenya ikut keluar rumah.

Diluar rumah sudah menunggu anak-anak kecil yang siap menunggu udik-udikan. Bayi dalam gendongan kemudian diarak keluar rumah. Berjalan memasuki gang dan jalan kampung. Uang pun disebarkan disepanjang perjalanan. Dengan berebutan anak-anakpun memunguti uang recehan.


Merbot mengadzani si bayi


Sesampainya di depan masjid rombonganpun memasuki halaman. Seterusnya bayi dibawa naik memasuki masjid. Bayi disambut oleh merbot masjid lalu di kumandangkan adzan di telinga kanan dan  iqomat di telinga kirinya. Setelah itu bayi kembali di bawa pulang dan uangpun kembali disebarkan.

Agar acara udik-udikan meriah maka ketika keluar dari rumah . Bayi dan rombongan menuju masjid bersamaan dengan selesainya shalat jamaah di Masjid. Ketika bayi memasuki masjid maka para jamaah menyambutnya dengan suka cita.

“ Ya ini hanya menjalankan tradisi orang –orang dulu. Agar lestari sampai sekrang maka harus kita jalankan meskipun tidak semeriah seperti dulu “, kata Mukholifah. (Muin)