Tampilkan postingan dengan label Ekuin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekuin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Maret 2014

Kayu Bakar Masih Laris Meski Sudah Ada Gas

Meski sudah ada gas untuk keperluan memasak tetapi kayu bakar masih diminati pembeli, karena diyakini lebih aman dan lebih ekonomis. Usaha jual beli kayu bakar seperti dilakukan Ali Ridho (53) warga Desa Babalan, Wedung, Demak Jawa Tengah ini pun masih menjanjikan keuntungan.

Kulakan kayu bakar dilakukannya dua hari sekali ke pasar desa Kedungmutih, diangkut 50–75 ikat menggunakan sepeda motor.

“Kami sediakan khusus bagi ibu rumah tangga yang takut menggunakan kompor gas, takut terjadi kebakaran. Oleh karenanya jatah kompor gas dan tabung dari pemerintah tidak dipergunakan tetapi dijualnya“, kata Ali Ridho kepada demakpos, Selasa (18/3).

1asPengojek Ali Ridho sedang menata ikatan kayu bakar kulakan kayu bakarnya. (Foto: Muin)

Sebelum ada gas elpiji masuk desa, Ali Ridho yang kesehariannya sebagai tukang ojek sudah berjualan kayu bakar. Namun  setelah datangnya kompor gas omzet penjualannya menurun drastis. Dulu setiap hari ia bisa menjual hingga ratusan ikat, tetapi sekarang paling 50 ikat.

“Lumayan bisa menambah pemasukan. Tiap ikat kami membeli Rp 1.500 dan kami jual Rp 2.000. Tiap ikat kami dapat untung Rp 500“, papar Ali.

Pekerjaan sebagai tukang ojek sudah puluhan tahun. Semenjak bujangan ia sudah menarik penumpang dengan sepeda motor. Awalnya hanya coba-coba saja mengantar keluarga, namun setelah mendapatkan hasil jadi keterusan sampai sekarang. Sedangkan kulakan kayu bakar hanya sebagai cangkingan belaka disela-sela waktu menunggu penumpang.

“Alhamdulillah dari berjualan kayu bakar dan hasil ngojekcukuplah untuk kebutuhan sehari-hari“, kata Ali Ridho menutup sua. (Muin)



Udang Tambak Rasanya Lebih Enak

Demak - Jika Anda kebetulan jalan-jalan ke Desa Kedungmutih, Wedung, Demak, Jawa Tengah,  pasti menemukan lapak usaha jual beli udang khusus dari tambak milik ny Munawaroh (50), ibu tujuh orang anak. Lapaknya tersebut, berada di pojok kolam sebelah timur, dengan sederet ember kecil-kecil berisi udang tambak berbagai ukuran.

“Ini udang putihan, ini udang windu dan ini udang seker yang biasa digunakan orang untuk umpan memancing. Semua udang ini dari tambak bukan dari laut“, kata ibu Munawaroh kepada demakpos, Senin (17/3).

Menurut Munawaroh, udang dari tambak mempunyai rasa yang lebih enak dibandingkan dengan udang laut. Tidak amis dan kulitnya lunak, sehingga tinggal dimasak apa saja tanpa dikupas dulu kulitnya. Berbeda dengan udang tangkapan dari laut. Baunya arus menyengat, warnanya agak pucat, dan kulitnya keras, sehingga jika dimasak kulitnya harus dihilangkan dulu.

BakulUdang-1Ibu Munawaroh sedang melayani penjual. (Foto: Muin)

Sudah 20 tahun lebih ibu Munawaroh membuka usaha jual beli udang spesial tambak ini.  Setiap pagi hari ia membuka lapak di pinggir jalan pojok kolam desa. Dengan berbekal ember-ember,timbangan dan juga sejumlah uang pecahan kecil, ia menunggu kedatangan para pemilik tambak desa setempatyang menjual udang tambak dari hasil posongannya semalam.

Meskipun lapakibu Munawarohdekat dengan pasar ikan Desa Kedungmutih, iamemilih ‘nyegat’ petambak langsung di jalan sehingga memudahkan calon pembeli karena tidak akan tercampur dengan udang hasil laut yang dijual di dalam pasar desa tersebut.

“Di dalam pasar terlalu ralai, mas. Di lapak luar pasar ini, kami sudah punya pelanggan tetap dan pembeli udang tambak pun tidak akan salah pilih (keliru) dengan udang laut karena kami hanya membeli udang tambak. Lagi pula, sejak dulu sebelum pasar desa (Kedungmutih) ini dibangun, saya sudah kulakanudang spesial tambak dan mangkal di lapak ini. Jadi, pelanggan saya sudah pada hafal“, kata Munawaroh.

Lapak pembelian udangnya buka mulai pukul setengah lima subuh hingg pukul 8 pagi. Setelah itu udang di bawa ke rumah untuk diproses, dibersihkan dan dipilah-pilah menurut ukuran dan jenisnya; udang super jumbo, super, biasa dan kecil. Udang itu dimasukkan ke dalam termos-termos besar dan selanjutnya disetorkan ke pengepul udang di Semarang oleh suami dengan menyewa angkutan sendiri jikalau jumlahnya banyak, dan dengan berombongan bakul lain kalau hasil pembeliannya sedikit.

Dari membuka usaha jual beli udang tambak ini ibu Munawaroh bisa menyekolahkan semua anaknya rata-rata tamat SMA/MA bahkan dua orang anaknya sudah ada yang kuliah. (Muin)



Kepiting Kedungkarang Terkenal Sejak Dulu

Dulu, warga Desa Kedungkarang, Wedung, Demak, Jawa Tengah ini, dikenal sebagai gudangnya pemburu kepiting bakau. Hampir separoh lebih warga desa ini mengandalkan hidupnya dari berburu kepiting tambak atau kepiting bakau, yaitu kepiting yang hidup di pertambakan, tepian pantai dan rawa-rawa. Namun seiring dengan makin sempitnya lahan berburu dan adanya larangan menangkap kepiting di pertambakan oleh pemiliknya, jumlah pemburu kepiting semakin berkurang.

Selain beralih pekerjaan, pemburu kepiting liar ini pada yang keluar Jawa untuk mencari daerah buruan baru di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Namun demikian, desa ini saat masih dikenal sebagai desa pemasok kepiting bakau di kawasan Demak dan sekitarnya. Apalagi beberapa warga kini ada yang membudidayakan kepiting bakau di lahan tambak.

“Selain untuk penggemukan kepiting, lahan ini juga untuk memelihara kepiting tak bertelur dijadikan kepiting bertelur. Dengan cara seperti ini penghasilan warga jadi bertambah. Penggemukan kepiting ini prinsip kerjanya hanyalah untuk menggemukkan kepiting, yang dibelinya dalam kondisi kecil atau kosong akuas tidak bertelur, kemudian dipelihara menjadi besar, gemuk dan bertelur “ujar Muhdi (45) Kepala Desa Kedungkarang kepada demakpos.

3Kepiting bakau Desa Kedungkarang siap kirim. (Foto: Muin)

Muhdi mengemukakan, sampai saat ini ada sekitar 200 orang warganya yang masih menekuni ‘profesi’ pemburu kepiting. Sekitar 75 orang yang menangkap kepiting di pesisir Wedung, dan selebihnya memburu kepiting di luar Jawa, dan sebagian lainnya mereka dibawa para bos pengepul kepiting dan melakukan perburuan kepiting di sana.

Hasil perolehan mereka di tampung oleh para bos yang kemudian mereka pasarkan ke seluruh Indonesia. Uang hasil kerja dengan para bos tersebut dikirimkan ke rumah masing-masing, dan atau sesekali mereka pulang membawa hasil pemburuan kepiting bakau mereka di luar Jawa tersebut.

“Untuk wilayah Kcamatan Wedung dan sekitarnya, desa kami bisa dikatakan pemasok kepiting bakau nomor satu. Siapapun yang ingin membeli kepiting bakau, bisa mendatangi para pengepul di desa kami“, tambah Muhdi.
  
Hasil perburuan kepiting bakau dari Desa Kedungkarang ini, selain dijual di terdekat seperti di Kedungmutih, Jepara, Pecangaan, Demak dan Kudus, juga dibawa ke kota besar Semarang, Solo, dan Jakarta. (Muin)