Rabu, 26 Maret 2014

Bupati: Berantas Kemungkaran Tugas Kita Bersama

CakNun-7


Adalah menjadi tugas kita semua untuk mengajak berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran yang ada di lingkungan kita. Demikian ajak Bupati Drs HM Dachirin Said SH, Msi dalam menjawab pertanyaan warganya dalamPengajian Budayamenyambut HUT Demak ke-511 di pelataran Masjid Agung Demak, Rabu (26/3) malam. Acara ‘interaktif’ dadakan tersebut dimoderatori oleh Emha Ainun Najib, yang mengusung para punggawanya Kiai Kanjeng dari Yohyakarta.

“Ini mumpung kita ketemu dengan bapak bupati dan para pimpinan kabupaten. Kita manfaatkan acara ini untuk saling mengetahui keinginan rakyat dan kemauan pemerintahnya. Silahkan siapa pun yang akan bertanya atau mengajukan sesuatu kepada bapak bupati dan pejabat Demak”, kata Cak Nun menawarkan kepada pengunjung pengajian malam itu.

Maka terlontarlah puluhan pertanyaan dan harapan warga terhadap pemerintah Demak ke depan. Di antaranya; masih adanya tenda PKL di Jalan Lingkar Selatan Kota yang digunakan esek-esek, upaya menegakkan identitas Demak Kota Wali.

“Apabila bapak, ibu dan saudara memergoki sepasang laki-perempuan bercakap-cakap di tempat umum yang agak gelap, dekati, tanyakan dan ingatkan agar tidak berbuat maksiat. Insya Allah, mereka akan merasa risih dan kapok”, kata bupati yang pernah memergoki pasangan laki-perempuan di tempat remang seperti tersebut di atas. Setelah ditanya, ternyata mereka suami-istri sedang berembug mencari solusi masalah keluarga di luar rumah agar tidak diketahui mertua mereka.

“Jangan hanya menyerahkan nahi munkar ini kepada aparat. Jumlah mereka terbatas tidak sebanding dengan luas wilayah tugasnya. Mari kita bersama-sama saling mengingatkan demi kebaikan, kemajuan dan kesejahteraan rakyat Demak” pinta bupati. (mac)





Biar Kapok Pengecer Judi Togel Ditangkap Polisi


Supadi (52) warga Desa Ngawen Wedung Demak, Senin (24/3) ditangkap polisi, karena tertangkap tangan sedang menjual kupon kuda lari atau judi toto gelap (togel) kepada penduduk setempat. 


Selain menangkap pelaku, petugas juga menyikat barang bukti berupa uang tunai Rp27 ribu, tiga bendel kupon rekap, 15 lembar kupon togel, potongan kertas karbon, sebuah ponsel, dan 10 kertas ramalan.

Kapolres Demak AKBP Setijo Nugroho melalui Kasubbag Humas AKP Sutomo mengatakan, penggerebegan rumah Supadi menindaklanjuti laporan warga yang resah terhadap aktifitas kakek beranak-cucu, yang pada Juli 2011 lalu terjerat kasus sama.

“Tersangka ini sudah pernah mendekam di penjara”, tutur Sutomo kepadademakpos. Dengan demikian, ‘rapor’ Supadi tersebut menjadi catatan khusus bagi penyidik dan penuntut umum di pengadilan. (mac)




PIP Semarang Berikan Penyuluhan Pelayaran Untuk Nelayan


Capt. Suwiyadi berikan kenang-kenangan pada Hamdan Kades Kedungmutih

Demak -  Bertempat di Balai desa Kedungmutih kecamatan Wedung kabupaten Demak  Kamis, (27/3) berlangsung Penyuluhan Keselamatan Pelayaran dan juga kesehatan bagi nelayan. Penyuluhan yang diadakan oleh Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang (PIP)  ini diikuti 75 nelayan warga desa Kedungmutih.

Dr. Capt. Suwiyadi, S.Mat, M Mar, MPd selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat mewakili Direktur PIP mengatakan, acara penyuluhan untuk nelayan tersebut bertujuan agar nelayan yang melaut menangkap ikan selamat dan sehat dalam bekerja. Selain itu lingkungan laut juga terjaga kelestariannya.

Dikatakan , sering terjadi kecelakaan nelayan dilaut karena kurangnya ilmu pengetahuan dalam berlayar. Misalnya persiapan mesin perahu , kondisi perahu dan perbekalan yang lainnya.

Penyuluhan ini juga diharapkan para nelayan akan lebih trampil dalam berlayar sehingga selamat badannya  perahunya dan juga lingkungan. Tidak hanya badannya yang sehat , namun perahu dan mesin awet serta tidak menyebabkan polusi laut.


Suasana Penyuluhan nelayan dari PIP Semarang


“ Dalam pelatihan ini selain Persiapan berlayar , kami juga berikan penyuluhan mengenai perbaikan mesin kapal atau perahu. Sehingga para nelayan bisa mengatasi kerusakan mesin perahu dengan cepat”, kata Capt Suwiyadi padademakpos.

Selain itu acara penyuluhan ini  juga sebagai ajang pengenalan Politeknik Ilmu Pelayaran untuk para nelayan. Diharapkan putra atau putri  nelayan yang ada di Demak bisa belajar di PIP ini. Sehingga nantinya mejadi tenaga pelayaran yang profesional.

“ Kita berharap putra-putri nelayan dari Kedungmutih ini ada yang meneruskan pendidikan di PIP Semarang. Agar kelak menjadi pelaut yang handal “, tambahnya.
Hamdan Kepala Desa Kedungmutih mengatakan acara penyuluhan untuk nelayan dari PIP Semarang diapresiasikan oleh nelayan Kedungmutih cukup positif. Oleh karena itu nelayan  yang datang ke balai desa melebihi kuota yang disediakan.

Oleh karena itu dia selaku pemerintahan desa Kedungmutih mengucapkan terima kasih pada PIP . Dengan adanya penyuluhan tersebut diharapkan para nelayan lebih profesional dalam berlayar. Selain itu juga kemanan dan kesehatan para nelayan terjaga dengan baik.

“ Harapan saya ke depan ada lagi putra nelayan yang belajar di PIP ini. Saat ini ada satu taruna dari desa Kedungmutih yang belajar di sana”, kata Hamdan.

Menurut Hamdan  Amirul adalah salah satu taruna PIP yang berasal dari desa Kedungmutih. Dia adalah anak seorang nelayan dari RT 07 RW 03 . Saat ini sedang menempuh ujian akhir. Ke depan diharapkan ada lagi taruna atau Taruni PIP yang berasal dari desa Kedungmutih kecamatan Wedung Kabupaten Demak. (Muin)



Kayu Bakar Masih Laris Meski Sudah Ada Gas

Meski sudah ada gas untuk keperluan memasak tetapi kayu bakar masih diminati pembeli, karena diyakini lebih aman dan lebih ekonomis. Usaha jual beli kayu bakar seperti dilakukan Ali Ridho (53) warga Desa Babalan, Wedung, Demak Jawa Tengah ini pun masih menjanjikan keuntungan.

Kulakan kayu bakar dilakukannya dua hari sekali ke pasar desa Kedungmutih, diangkut 50–75 ikat menggunakan sepeda motor.

“Kami sediakan khusus bagi ibu rumah tangga yang takut menggunakan kompor gas, takut terjadi kebakaran. Oleh karenanya jatah kompor gas dan tabung dari pemerintah tidak dipergunakan tetapi dijualnya“, kata Ali Ridho kepada demakpos, Selasa (18/3).

1asPengojek Ali Ridho sedang menata ikatan kayu bakar kulakan kayu bakarnya. (Foto: Muin)

Sebelum ada gas elpiji masuk desa, Ali Ridho yang kesehariannya sebagai tukang ojek sudah berjualan kayu bakar. Namun  setelah datangnya kompor gas omzet penjualannya menurun drastis. Dulu setiap hari ia bisa menjual hingga ratusan ikat, tetapi sekarang paling 50 ikat.

“Lumayan bisa menambah pemasukan. Tiap ikat kami membeli Rp 1.500 dan kami jual Rp 2.000. Tiap ikat kami dapat untung Rp 500“, papar Ali.

Pekerjaan sebagai tukang ojek sudah puluhan tahun. Semenjak bujangan ia sudah menarik penumpang dengan sepeda motor. Awalnya hanya coba-coba saja mengantar keluarga, namun setelah mendapatkan hasil jadi keterusan sampai sekarang. Sedangkan kulakan kayu bakar hanya sebagai cangkingan belaka disela-sela waktu menunggu penumpang.

“Alhamdulillah dari berjualan kayu bakar dan hasil ngojekcukuplah untuk kebutuhan sehari-hari“, kata Ali Ridho menutup sua. (Muin)



Udang Tambak Rasanya Lebih Enak

Demak - Jika Anda kebetulan jalan-jalan ke Desa Kedungmutih, Wedung, Demak, Jawa Tengah,  pasti menemukan lapak usaha jual beli udang khusus dari tambak milik ny Munawaroh (50), ibu tujuh orang anak. Lapaknya tersebut, berada di pojok kolam sebelah timur, dengan sederet ember kecil-kecil berisi udang tambak berbagai ukuran.

“Ini udang putihan, ini udang windu dan ini udang seker yang biasa digunakan orang untuk umpan memancing. Semua udang ini dari tambak bukan dari laut“, kata ibu Munawaroh kepada demakpos, Senin (17/3).

Menurut Munawaroh, udang dari tambak mempunyai rasa yang lebih enak dibandingkan dengan udang laut. Tidak amis dan kulitnya lunak, sehingga tinggal dimasak apa saja tanpa dikupas dulu kulitnya. Berbeda dengan udang tangkapan dari laut. Baunya arus menyengat, warnanya agak pucat, dan kulitnya keras, sehingga jika dimasak kulitnya harus dihilangkan dulu.

BakulUdang-1Ibu Munawaroh sedang melayani penjual. (Foto: Muin)

Sudah 20 tahun lebih ibu Munawaroh membuka usaha jual beli udang spesial tambak ini.  Setiap pagi hari ia membuka lapak di pinggir jalan pojok kolam desa. Dengan berbekal ember-ember,timbangan dan juga sejumlah uang pecahan kecil, ia menunggu kedatangan para pemilik tambak desa setempatyang menjual udang tambak dari hasil posongannya semalam.

Meskipun lapakibu Munawarohdekat dengan pasar ikan Desa Kedungmutih, iamemilih ‘nyegat’ petambak langsung di jalan sehingga memudahkan calon pembeli karena tidak akan tercampur dengan udang hasil laut yang dijual di dalam pasar desa tersebut.

“Di dalam pasar terlalu ralai, mas. Di lapak luar pasar ini, kami sudah punya pelanggan tetap dan pembeli udang tambak pun tidak akan salah pilih (keliru) dengan udang laut karena kami hanya membeli udang tambak. Lagi pula, sejak dulu sebelum pasar desa (Kedungmutih) ini dibangun, saya sudah kulakanudang spesial tambak dan mangkal di lapak ini. Jadi, pelanggan saya sudah pada hafal“, kata Munawaroh.

Lapak pembelian udangnya buka mulai pukul setengah lima subuh hingg pukul 8 pagi. Setelah itu udang di bawa ke rumah untuk diproses, dibersihkan dan dipilah-pilah menurut ukuran dan jenisnya; udang super jumbo, super, biasa dan kecil. Udang itu dimasukkan ke dalam termos-termos besar dan selanjutnya disetorkan ke pengepul udang di Semarang oleh suami dengan menyewa angkutan sendiri jikalau jumlahnya banyak, dan dengan berombongan bakul lain kalau hasil pembeliannya sedikit.

Dari membuka usaha jual beli udang tambak ini ibu Munawaroh bisa menyekolahkan semua anaknya rata-rata tamat SMA/MA bahkan dua orang anaknya sudah ada yang kuliah. (Muin)



Kepiting Kedungkarang Terkenal Sejak Dulu

Dulu, warga Desa Kedungkarang, Wedung, Demak, Jawa Tengah ini, dikenal sebagai gudangnya pemburu kepiting bakau. Hampir separoh lebih warga desa ini mengandalkan hidupnya dari berburu kepiting tambak atau kepiting bakau, yaitu kepiting yang hidup di pertambakan, tepian pantai dan rawa-rawa. Namun seiring dengan makin sempitnya lahan berburu dan adanya larangan menangkap kepiting di pertambakan oleh pemiliknya, jumlah pemburu kepiting semakin berkurang.

Selain beralih pekerjaan, pemburu kepiting liar ini pada yang keluar Jawa untuk mencari daerah buruan baru di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Namun demikian, desa ini saat masih dikenal sebagai desa pemasok kepiting bakau di kawasan Demak dan sekitarnya. Apalagi beberapa warga kini ada yang membudidayakan kepiting bakau di lahan tambak.

“Selain untuk penggemukan kepiting, lahan ini juga untuk memelihara kepiting tak bertelur dijadikan kepiting bertelur. Dengan cara seperti ini penghasilan warga jadi bertambah. Penggemukan kepiting ini prinsip kerjanya hanyalah untuk menggemukkan kepiting, yang dibelinya dalam kondisi kecil atau kosong akuas tidak bertelur, kemudian dipelihara menjadi besar, gemuk dan bertelur “ujar Muhdi (45) Kepala Desa Kedungkarang kepada demakpos.

3Kepiting bakau Desa Kedungkarang siap kirim. (Foto: Muin)

Muhdi mengemukakan, sampai saat ini ada sekitar 200 orang warganya yang masih menekuni ‘profesi’ pemburu kepiting. Sekitar 75 orang yang menangkap kepiting di pesisir Wedung, dan selebihnya memburu kepiting di luar Jawa, dan sebagian lainnya mereka dibawa para bos pengepul kepiting dan melakukan perburuan kepiting di sana.

Hasil perolehan mereka di tampung oleh para bos yang kemudian mereka pasarkan ke seluruh Indonesia. Uang hasil kerja dengan para bos tersebut dikirimkan ke rumah masing-masing, dan atau sesekali mereka pulang membawa hasil pemburuan kepiting bakau mereka di luar Jawa tersebut.

“Untuk wilayah Kcamatan Wedung dan sekitarnya, desa kami bisa dikatakan pemasok kepiting bakau nomor satu. Siapapun yang ingin membeli kepiting bakau, bisa mendatangi para pengepul di desa kami“, tambah Muhdi.
  
Hasil perburuan kepiting bakau dari Desa Kedungkarang ini, selain dijual di terdekat seperti di Kedungmutih, Jepara, Pecangaan, Demak dan Kudus, juga dibawa ke kota besar Semarang, Solo, dan Jakarta. (Muin)



Selasa, 25 Maret 2014

“ Maestro “ Collection Kembali ke Lantai 2 Pasar Kliwon Kudus


Kudus – Pasar Kliwon Kudus pasar grosir terbesar di Jawa Tengah bagian Timur penataan pedagang pasca kebakaran usai sudah. Seluruh pedagang yang dulu menggelar dagangannya di halaman parkir pasar . Akhir bulan Desember 2013 kembali ke lantai 2.

Posisi pedagang di lantai 2 tidak berubah seperti sebelum terbakar. Masing-masing pedagang kembali membangun los-los baru di tempatnya dulu. Meskipun harus mengeluarkan biaya tambahan . Namun beberapa pedagang mengaku senang atas kembalinya mereka ke lantai 2.

“ Ya kami cukup bersyukur kembali ke tempat ini lagi. Jika hujan tidak ada air menggenang dan pelangganpun tidak lagi kesulitan mencari los kami “, ujar Agung Kurniawan pemilik “Maestro” collection yang menjual berbagai pakaian untuk kebutuahn distro.

Agung yang membuka lapak empat tahun yang lalu mengatakan, ketika kebakaran hampir dua tahun yang lalu ia rugi banyak. Selain los yang ludes dagangan di dalamnya ikut terbakar. Namun berkat keuletannya berusaha kini ia kembali bangkit lagi.

“ Alhamdulillah dengan pinjaman dari Koperasi saya bisa kulakan lagi, dan bisa membeli kios . Dulu saya kontrak namun usai kebakaran oleh pemilik dijual hingga saya tutup sendiri “, kata Agung yang ditemani istrinya.

Agung mengemukakan , saat ini baku-bakul yang mengambil dagangannya kebanyakan pedagang dari luar Kudus. Selain Jepara , Demak , Pati ada juga yang dari Rembang. Mereka setiap hari datang mengambil dagangan dari kiosnya di lantai 2 blok A.

Selain kaos atau Tshir berbagai jenis dan pilihan, ada juga celana dan baju berbahan jeans. Dagangan yang dijual kebanyakan untuk kalangan muda. Selain itu modelnya selalu up to date.


Agung melayani pelanggannya


Untuk memperbaharui dagangannya setiap minggu dua kali dia mendatangkan barang dari Jakarta , Bandung dan kota lainnya penghasil pakaian berkualitas. Jika diperlukan ia sendiri langsung datang ke Jakarta untuk memilih dagangan.
“ Saya menjamin dagangan yang saya jual ini selalu model baru. Sehingga jika ada model baru saya langsung menghubungi pemasok untuk segera dikirim”, paparnya.

Oleh karena itu bakul yang datang ke lapaknya adalah kawula muda pemilik distro. Mereka datang kulakan pakaian yang kemudian dijual lagi. Setiap kali kulakan biasa puluhan biji. Sehingga setiap waktu dia selalu menjaga stok di kiosnya.


“ Ya bagi yang baru membuka distro , saya siap membimbing atau mengajari. Nanti kita pilihkan pakaian anak muda yang cepat laku. Sehingga modal bisa berputar”, kata Agung sambil memberikan nomor HPnya :  085641332448. (Muin)

Jika anda mempunyai usaha distro bisa kerjasama dengan :
Toko ”Maestro: ”
Kios Pasar Kliwon Kudus
Alamat Rumah : Purwosari Wijilan No: 363
                              RT: 01 RW: 04
                              Kudus 
                              HP :  085641332448